Narasi Reflektif: Kesadaran atas Kesadaran
Hidup manusia tidak pernah sesederhana sekadar ketika ia sadar. Eksistensi tidak berhenti ketika kita tertidur, pingsan, atau berada dalam bius yang dalam. Dunia tetap berputar, orang lain tetap hidup dalam kesadarannya, kosmos terus berjalan dalam keteraturannya. Bahkan ketika kesadaran diri kita seolah padam, hidup tetap berlangsung dalam genggaman yang lebih besar.
Dari pengalaman tidur, kita tahu bahwa “aku” masih hadir—meski dalam bentuk mimpi yang absurd. Namun dalam pengalaman deep sleep atau saat dibius total, lenyaplah semua: tiada memori, tiada ruang, tiada sensasi. Yang tersisa hanyalah “ketiadaan” dari sudut pandang kita. Namun, dunia di luar sana tidak berhenti. Dokter tetap bekerja, orang terkasih tetap cemas, semesta tetap bergerak. Ini menyadarkan kita bahwa eksistensi diri bukanlah pusat kosmos, melainkan hanya sebutir titik dalam arus besar kehidupan.
Di sinilah manusia ditantang untuk menyadari bahwa kesadarannya rapuh dan terbatas. Namun justru di balik keterbatasan itu ada misteri yang lebih besar: mungkin kesadaran tidak hilang, melainkan tetap ditopang oleh sesuatu yang lebih tinggi. Tuhan, Sang Pemelihara, menjaga eksistensi bahkan ketika kita tak mampu merasakan diri sendiri.
Maka, tugas manusia saat kesadarannya “on” bukanlah merasa sebagai pusat semesta, melainkan menyadari keterbatasan diri dan menempatkan hidupnya dalam jalinan kosmik yang lebih besar. Kesadaran tidak cukup hanya berhenti pada “saya berpikir, saya merasa”. Yang lebih penting adalah kesadaran atas kesadaran—kemampuan untuk melihat bahwa kesadaran ini sendiri adalah anugerah, sekaligus panggilan.
Kesadaran atas kesadaran adalah panggilan spiritualitas. Ia mengajak manusia untuk melampaui ego, untuk rendah hati di hadapan misteri kosmos, dan untuk membuka diri pada Sang Transenden. Saat kita sungguh menyadari bahwa kita sadar, kita menemukan bahwa kesadaran bukan milik kita semata, melainkan ruang perjumpaan dengan Tuhan.
Momen ini bisa menjadi doa yang hidup: sebuah kehadiran penuh, jernih, dan hening, di mana manusia berpasrah, bersyukur, dan sekaligus bertanggung jawab. Karena setiap detik kesadaran adalah kesempatan suci—untuk memilih, untuk mengasihi, untuk mengambil bagian dalam pemeliharaan Tuhan atas dunia.
Akhirnya, kesadaran atas kesadaran membuat kita tidak lagi bertanya hanya “apakah aku ada?”, melainkan lebih jauh: “untuk apa aku diundang hadir di sini?”. Dan jawaban itu tidak selalu ditemukan dalam logika, tetapi dalam iman, dalam percaya, dan dalam keberanian untuk menaruh diri dalam arus kosmos yang lebih besar.
“Sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada.” (Kisah Para Rasul 17:28)