Posts

Kepergok Diri Sendiri

Pagi ini aku berjalan seperti biasa. Menyusuri jalanan, langkah demi langkah, ditemani musik yang mengalun pelan di telingaku melalui headset. Tapi yang lebih hidup justru di dalam: pikiran, rasa, raos, semuanya bergerak, muncul silih berganti. Aku sedang berlatih melihat. Melihat bukan hanya yang di luar, orang-orang, kendaraan, hal-hal kecil di sekitar, sampah di pinggir jalan yang masih bertebaran, kabel yang bergelantungan di setiap jalan bak sarang laba-laba, tapi juga yang di dalam. Percakapan batin, bayangan-bayangan, reaksi-reaksi halus yang sering kali luput. Lalu di tengah jalan pagi itu, aku menyadari sesuatu. Ternyata di dalam diriku ada kecenderungan yang halus, keinginan untuk diakui, untuk dianggap, untuk menjadi “sesuatu”. Ia tidak selalu muncul terang-terangan. Kadang ia berbalut niat baik. Kadang ia bersembunyi di balik hal-hal yang terlihat benar. Dan pagi ini, aku kepergok. Bukan oleh orang lain. Tapi oleh diriku sendiri. Aku berhenti sejenak di dalam hati. Melihat ...

Bukan Bebas Luka, Tapi Tidak Ditinggalkan

1 Yohanes 4:19 Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita . Ayat ini sering terasa mudah diamini, selama hidup sedang baik-baik saja. Tapi begitu hati terluka, hidup terasa tidak adil, ayat ini bisa terdengar jauh. Seolah-olah tidak nyambung dengan realita yang dihadapi. Mari kita pikirkan, mungkin masalahnya bukan pada ayatnya, tapi pada cara kita memahami kasih. Kita terbiasa mengartikan kasih sebagai kenyamanan, kebahagiaan, keterpenuhan. Selama itu ada, kita merasa dikasihi. Tapi ketika semua itu hilang, kita mulai bertanya: di mana kasih Allah? Ayat ini tidak sedang berbicara tentang perasaan enak. Kasih Allah bukan terutama soal membuat hidup kita bebas dari penderitaan. Kasih Allah adalah penyertaan. Ia tidak selalu mencegah luka, tapi Ia tidak meninggalkan kita di dalam luka itu. Dan ayat ini juga bukan perintah. Bukan “ ayo, tetaplah mengasihi ” seolah kita harus pura-pura kuat. Ini pernyataan. Bahwa ketika seseorang menyadari --- sungguh-sungguh menyadari --- b...

Iman yang Dijual, atau Hidup yang Dipanggil?

Pagi ini aku berjalan, seperti biasa olahraga ringan pagi. Langkah demi langkah terasa ringan, tapi lirik dari lagu ya g kudengar dari spotify yang justru terasa berat. Lagu itu dari grup Rock era 90an The Genesis, Phil Collin. Lagu tentang seseorang yang berkata: “Yesus kenal aku… dan aku benar.” Jesus, He Knows Me, I am right.  Sekilas terdengar rohani. Tapi semakin didengar, semakin terasa, ini bukan iman, ini sebuah kritik tajam. Yesus dipakai, bukan diikuti. Nama-Nya dijual, bukan dimuliakan. Dan anehnya… aku tidak sepenuhnya asing dengan makna lagu itu. Bukankah kadang aku juga: menggunakan bahasa iman untuk terlihat benar? menghindari pertobatan tapi tetap ingin disebut dekat dengan Tuhan? Lagu itu seperti membuka topeng: iman bisa menjadi identitas luar, tanpa perubahan dalam. Padahal Yesus tidak pernah menawarkan diri-Nya untuk dijual. Ia memanggil: “Keluarlah!” sebagaimana saat Ia memanggil Lazarus dari kematiannya, " Lazarus Keluarlah ". - Keluar dari kepalsuan. -...

Perlombaan Itu Ternyata di Dalam Diri

Pagi ini aku mencoba sesuatu yang berbeda. Biasanya Sabtu pagi aku isi dengan jalan di Sanur, tapi kali ini aku sempatkan ikut Persekutuan Doa Pagi di GKI Denpasar. Sesederhana itu keputusannya, tapi ternyata yang terjadi di dalam diriku tidak sesederhana itu. Datang dengan kostum olahraga, jelas aku langsung “terasa beda”. Tidak sepenuhnya salah, tapi juga tidak sepenuhnya pas. Beberapa peserta senior menyapa, bertanya mau ada kegiatan apa. Aku sempat menjawab bercanda, hanya numpang berteduh karena hujan pak. Tapi kemudian aku luruskanjawaban itu menjadi -- saya memang datang untuk ikut doa pagi pak. Responnya beragam. Ada yang kaget, ada yang ramah, ada yang seperti menilai dalam diam. Dan aku… ya seperti biasa, kalau tidak ditanya ya tidak banyak bicara. Aku lebih memilih mengamati. Tapi justru di situ rasa kagok itu muncul jelas. Aku tidak tahu ritme, tidak hafal lagu, tidak paham respon liturgis. Bahkan untuk hal sederhana seperti kapan harus menjawab atau bernyanyi pun aku harus...

Masuk ke Kedalaman, Berjumpa dengan Kristus

Ada kalanya kita mencari Tuhan ke mana-mana. Kita sibuk dengan aktivitas rohani, pelayanan, berdiskusi, seolah Tuhan itu jauh dan harus dikejar keluar dari diri kita. Namun firman Tuhan mengajak kita berhenti sejenak. Mengajak kita masuk kedalam. Bukan untuk menemukan “keilahian diri”, tetapi untuk berjumpa dengan Tuhan yang sudah lebih dahulu hadir di sana. Di dalam keheningan hati, kita mulai menyadari sesuatu: Bahwa hidup kita ini bukan berdiri sendiri. Ada Pribadi yang menopang, menghidupi, dan mengenal kita lebih dalam daripada kita mengenal diri sendiri . Bukan kita adalah Tuhan. Tetapi Tuhan berkenan diam di dalam kita. Dan dari situ lahir kesadaran yang lembut namun kuat: Hidup ini bukan milik kita lagi sepenuhnya. Kita hidup karena Kristus berkenan hadir di dalam kita. Sejak itu, cara kita memandang orang lain berubah. Kita belajar melihat sesama bukan sebagai objek, tapi sebagai pribadi yang juga dikasihi Tuhan. Mengasihi bukan lagi sekadar kewajiban, tapi respons alami dari ...

The Art of Slow Travel

Saya memilih perjalanan darat yang panjang dengan bus antar provinsi, hampir dua puluh empat jam, bukan karena paling efisien, tetapi karena saya tidak sedang diburu waktu. Tidak ada agenda yang harus dikejar, kecuali satu hal yang sederhana namun bermakna: merayakan Natal bersama Naren, cucu saya. Selebihnya, perjalanan ini saya biarkan berjalan dengan ritmenya sendiri. Di dalam kabin yang sempit namun privat, saya belajar kembali mendengarkan tubuh. Lapar kecil tidak dituruti berlebihan. Makan secukupnya, minum seperlunya, obat diminum tepat waktu. Dalam perjalanan panjang, kenyamanan bukan soal memanjakan diri, melainkan menjaga agar tubuh tetap bersahabat. Tubuh yang tenang membuat perjalanan menjadi mungkin untuk dinikmati. Pemberhentian demi pemberhentian terasa seperti tanda baca. Tidak penting jika dilihat dari target tiba, tetapi menentukan irama cerita. Pagi di Bali, orang-orang ngopi santai di depan toko, tukang bangunan bersiap bekerja. Hidup berjalan pelan, tidak tergesa. ...

Otak, Iman, dan Tubuh Kristus: Dari Memori Negatif Menuju Neuroplasticity Spiritual

Tulisan ini memang bukan karya saya, melainkan hasil diskusi saya dengan AI yang membantu menganalisa, merelasikan dan memberikan makna dari berbagai pokok dalam diskusi kami.  Saya menemukan sebuah penjelasan yang bagi saya pribadi amat bermakna dalam mengembangkan kehidupan spiritualitas saya melalui karya ini. Sehingga saya berpikir barangkali akan bermakna juga kepada siapapun yang membacanya.  Berikut tulisan ini.  Otak Mengingat Celaan Selama Puluhan Tahun, tapi Melupakan Doa Dalam 30 Hari.  Manusia memiliki kecenderungan alami untuk lebih mengingat yang buruk dibanding yang baik. Sebuah riset psikologi menunjukkan bahwa kata-kata negatif dapat membekas hingga puluhan tahun, sementara pujian atau sanjungan kerap menguap hanya dalam hitungan minggu. Fenomena ini disebut negativity bias, dan berakar pada warisan evolusi manusia. Dalam sejarah panjang kelangsungan hidup, otak manusia dilatih untuk memprioritaskan informasi berbahaya agar dapat menghindari ancaman....