Posts

Memoar Seorang Akung - Dari Telepon 4246 sampai Smartphone

Image
Malam ini aku menonton sebuah film lama. Judulnya The Contractor . Entah sudah film produksi tahun berapa. Yang menarik perhatianku justru bukan jalan ceritanya. Di salah satu adegan, seorang tokohnya menerima telepon menggunakan sebuah HP jadul. Belum smartphone. Layarnya kecil, tombolnya banyak, bentuknya masih tebal. Adegan itu hanya lewat beberapa detik. Tetapi entah kenapa, pikiranku langsung melompat hampir tiga puluh tahun ke belakang. "Lho... HP pertamaku dulu juga seperti itu." Nokia 5110 . Begitu nama itu muncul di kepalaku, seperti ada pintu tua yang perlahan terbuka. Satu demi satu kenangan keluar tanpa harus dipanggil. Lucunya, aku justru termasuk orang yang paling akhir memiliki HP dibanding teman-teman sekantor. Waktu itu hampir semua orang mulai membawa HP ke mana-mana. Rasanya keren. Ada sarung kulit yang dipasang di gesper celana. Kalau berjalan, HP itu menggantung di pinggang. Menjadi gaya hidup baru. Aku malah berpikir sebaliknya. "Untuk a...

Tidak Ada yang Mustahil?

Seorang anak kecil melihat ayahnya sedang memotong buah dengan pisau yang sangat tajam. Melihat itu si anak berkata "Yah, aku mau pinjam pisaunya, buat motong buah". Ayahnya tersenyum, tetapi menggeleng pelan. Anak itu merengek. Menurutnya, ayahnya pelit. Padahal baginya, memberikan pisau itu bukan perkara sulit. Yang tidak dipahami sang anak adalah: ayahnya bukan tidak mampu memberikan, tetapi tahu bahwa anaknya belum siap menerimanya. Anak itu menangis karena tidak diberi pisau. Ia mengira ayahnya tidak mengasihi. Bukankah kita sering seperti anak itu? Kita pun sering merengek, bahkan menangis karena Tuhan tidak memberikan apa yang kita minta. Kita lupa bahwa mungkin kita sedang memegang tangan Bapa yang sedang menjauhkan kita dari sesuatu yang belum sanggup kita tanggung. " Tidak ada yang mustahil bagi Allah " bukan berarti Allah akan memenuhi semua keinginan kita.  Justru karena tidak ada yang mustahil bagi-Nya, kita berani berserah bahwa apa pun yang Ia berikan...

Tuhan, Ajar Aku Berdanza

"Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu." - Amsal 3:5-6 Dalam sebuah perjalanan, saya pernah menyusun hampir seluruh agenda dengan sangat rinci. Jam berapa harus berangkat, kapan harus tiba, apa yang harus dilakukan, bahkan berapa lama waktu yang tersedia di setiap tempat. Namun seperti sering terjadi dalam hidup, tidak semua berjalan sesuai rencana. Ada jadwal yang bergeser, ada agenda yang berubah, dan ada situasi yang sama sekali tidak saya perhitungkan sebelumnya. Yang menarik, sumber kegelisahan saya ternyata bukan perubahan perubahan itu. Kegelisahan justru muncul karena saya terus berusaha mempertahankan agar segala sesuatu tetap berjalan sesuai rancangan semula. Sesuai kehendak dan pikiran saya.  Bukankah kita sering seperti itu? Kita merencanakan banyak hal. Itu tidak salah. Tuhan juga mengaruniakan akal budi agar kita dapat mempersiapkan diri...

Setengah Hari ke Kintamani: Pergi, Hadir, Pulang

Image
Sejak balik dari rumah Naren di Tangsel tanggal 14 April lalu, rencana motoran ke Kintamani sudah berputar-putar di kepala. Bukan rencana besar—justru sederhana sekali. Mampir makan mujair nyatnyat di warung Jowet, lalu ngopi sambil melihat Gunung Batur dari Penelokan, membuka laptop, menyelesaikan beberapa urusan kemajelisan. Selebihnya, tidak ada. Bahkan soal berapa lama di sana pun tidak jelas. Barangkali memang bukan soal lamanya tinggal, tapi pengalaman selama perjalanan itu sendiri. Maka pagi itu, tanpa banyak menimbang lagi, aku memutuskan berangkat. Sekitar pukul 09.30 aku keluar dari rumah. Jaket parasut tipis kupakai sekadar melindungi tangan dari sengatan matahari Denpasar yang belakangan terasa tajam. Ransel berisi laptop ikut kubawa—meski belakangan baru kusadari, kacamata baca dan mouse tertinggal. Motor yang kupakai adalah Yamaha Vixion peninggalan masa kuliah Andra di Jogja, dengan plat AB yang masih setia menempel. Perjalanan dimulai lewat Jl. Nangka Uta...

Jogja yang Tak Pernah Sepenuhnya Direncanakan

Image
Perjalanan ini sejak awal memang bukan perjalanan biasa. Bukan karena jaraknya jauh, tapi karena niatnya tidak sepenuhnya tentang tujuan. Ada sesuatu yang ingin dijalani. Sebuah laku. Sebuah jeda. Sebuah ruang untuk melihat diri sendiri lebih jernih. Aku memutuskan berangkat dari Denpasar menuju Jogja, bukan karena harus. Hanya karena ingin mampir. Ada tarikan yang sulit dijelaskan. Jogja selalu terasa seperti sosok ibu, yang memanggil pulang ketika waktu bermain sudah selesai. Hangat, diam, tapi kuat. Rencana awal sebenarnya cukup padat, meski hanya dalam waktu singkat. Pagi hari setibanya di Jogja, aku berniat sarapan di depot Surya nya Joni, bertemu dengan Pdt. Gunawan untuk berdiskusi mengenai satgas relawan. Lalu siang hari beralih ke rencana takziah ke Mbak Erna, ibunda almarhum Mas Angga yang baru saja berpulang dua minggu sebelumnya. Sore harinya, sudah terbayang diskusi bersama Prof. Koentjoro dan beberapa kolega, termasuk Mas Elda, besanku yang tinggal di Ponjong,...

Kramadangsa yang Disalibkan

P agi ini ada satu kesadaran sederhana: tidak selalu hidup dijalani dengan sadar. Banyak hal mengalir begitu saja—rasa muncul, reaksi terjadi, dan kramadangsa, “aku” yang melekat pada kepentingan dan pertahanan diri, diam-diam mengambil alih. Sepotong lagu yang terdengar di perjalanan— “Aku tak mengerti apa yang kurasa…”, sepotong lirik dari lagu "Kangen" Yang dinyanyikan Once Mekel, seakan menegaskan hal itu: rasa seringkali sudah bergerak, bahkan sebelum benar-benar dipahami. Kramadangsa tidak selalu salah. Ia hadir untuk bertahan. Namun ketika ia menjadi pusat, rasa mudah menguasai—hidup terasa tegang, penuh dorongan untuk menguasai, mempertahankan, dan memenangkan. Karena itu, perlu belajar berhenti sejenak—melihat, menyadari, dan mengenali rasa tanpa harus langsung mengikutinya. Dari sini mulai tampak bahwa tidak semua rasa harus dituruti, dan tidak semua reaksi perlu diwujudkan. Namun kesadaran akan rasa saja belum cukup. Dalam Kristus, langkah ini tidak berhenti pad...

Berisik Pagi: Menemukan Tuhan di Tengah Riuh

Pagi hari sering dibayangkan sebagai waktu yang tenang. Tapi kenyataannya tidak selalu begitu. Bahkan sejak bangun, berisik itu sudah mulai terasa. Notifikasi pesan singkat dari gadget mulai berdenting satu-satu, lama kelamaan semakin sering, dunia perlahan hidup, dan di dalam diri, pikiran juga ikut bergerak, mengingat apa yang belum selesai, memikirkan apa yang akan dijalani hari ini, bahkan membawa rasa-rasa, gagasan, keterpuasan, kekecewaan yang belum tuntas dari sebelumnya. Ternyata, sebelum apa pun dilakukan, batin ini sudah lebih dulu ramai. Di situ sering muncul anggapan bahwa untuk bisa berdoa dengan baik, perlu suasana yang tenang dulu. Seolah-olah Tuhan lebih mudah ditemui ketika semuanya sudah sunyi. Tetapi justru dalam keadaan seperti ini, firman Tuhan mengingatkan, “Hanya dekat Allah saja ada ketenangan” (Mazmur 62:2). Artinya, ketenangan itu bukan hasil dari situasi yang ideal, melainkan dari kedekatan. Kedekatan dengan Tuhan yang kita percaya tetap berjalan disamping ...