Posts

Di Bawah Beringin Tua di TMP Margarana

Image
Pagi ini, saat aku mengantar istri yang mengikuti upacara tabur bunga bersama kantornya, aku duduk didalam mobil, dibawah rindangnya sebuah beringin tua di Taman Makam Pahlawan Margarana. Batangnya begitu besar, akar-akarnya menjuntai dan sebagian telah menjadi penyangga yang kokoh bagi tubuhnya sendiri. Tajuknya menaungi siapa saja yang berada di bawahnya. Burung-burung datang dan pergi, sementara anjing-anjing milik warga berkeliaran dengan tenang di antara pepohonan. Kehidupan tetap berlangsung di tempat yang dipenuhi kenangan tentang mereka yang telah lebih dahulu menyelesaikan perjalanan hidupnya. Ketika memandang beringin yang sepintas berkesan mistis itu, tanpa disadari muncul pula berbagai ingatan dan cerita yang pernah melekat sejak masa kecil. Tentang pohon besar yang dianggap angker, tentang penunggu, dan berbagai kisah yang hidup dalam budaya. Saat itulah timbul pertanyaan di dalam diri, mengapa kesan-kesan semacam itu begitu mudah muncul? Pertanyaan sederhana i...

Dari Ancaman Menuju Allah

Mengapa manusia begitu menyukai cerita horor? Mengapa kisah tentang hantu, roh jahat, atau kerasukan selalu menarik perhatian? Mungkin jawabannya lebih dalam daripada sekadar mencari hiburan. Sejak awal kehidupan, setiap makhluk hidup memiliki satu dorongan yang sama, yaitu mempertahankan eksistensinya. Burung menghindari pemangsa, rusa berlari ketika mencium bau harimau, bahkan tumbuhan pun memiliki cara melindungi dirinya. Demikian pula manusia. Otak kita diciptakan begitu peka terhadap ancaman karena kepekaan itulah yang memungkinkan kita bertahan hidup. Tidak mengherankan jika perhatian manusia lebih mudah tertuju pada bahaya daripada pada kedamaian. Cerita tentang ancaman selalu terasa lebih memikat daripada cerita tentang ketenangan. Karena itulah budaya manusia dipenuhi kisah-kisah yang memiliki pola serupa: ada ancaman, ada perjuangan, lalu akhirnya ada kemenangan. Pola yang sama ternyata juga sering muncul dalam kehidupan beragama. Ada roh jahat yang mengganggu, lalu kuasa ...

Ketika Anugerah Berubah Jadi Hak

Masih ingat cerita komedian eks Srimulat, Nunung? Selama bertahun-tahun ia membantu banyak anggota keluarganya. Pada awalnya bantuan itu diterima dengan rasa syukur. Namun seiring waktu, sesuatu yang menarik terjadi. Bantuan yang semula dipandang sebagai kebaikan perlahan berubah menjadi sesuatu yang dianggap wajar. Harapan pun tumbuh. Dan ketika suatu saat bantuan itu tidak lagi dapat diberikan, muncullah kekecewaan. Dan saat Nunung bangkrut, ia ditinggalkan oleh orang yang selama ini dibantunya.  Tentu renungan ini bukan sedang membahas Nunung ataupun keluarganya. Yang menarik justru adalah bagaimana hati manusia bekerja. Bukankah hal seperti itu juga dapat terjadi dalam banyak relasi? Sesuatu yang semula diterima sebagai anugerah, perlahan dapat berubah menjadi sesuatu yang kita anggap sebagai hak. Perenungan itu membawa kita melihat kehidupan rohani dari sudut yang berbeda. Sebagian besar dari kita mulai mencari Allah karena kebutuhan. Kita datang kepada-Nya ketika merasa tidak...

Dari Kebutuhan Menuju Pribadi Allah

Sejak lahir, manusia hidup dengan berbagai kebutuhan. Ketika lapar, kita mencari makanan. Ketika haus, kita mencari minuman. Ketika merasa tidak aman, kita mencari perlindungan. Ketika terluka, kita mencari pemulihan. Dalam psikologi dikenal sebuah gagasan yang disebut pleasure principle , yaitu kecenderungan manusia untuk mencari apa yang menyenangkan dan menghindari apa yang menimbulkan kesulitan atau penderitaan. Semakin direnungkan, prinsip ini ternyata tidak hanya tampak dalam kehidupan sehari-hari, tetapi juga dalam kehidupan rohani. Coba perhatikan doa-doa kita. Sebagian besar berisi ucapan syukur karena sesuatu telah diterima, atau permohonan agar Tuhan memenuhi kebutuhan yang sedang dihadapi. Kita bersyukur ketika sehat, memohon ketika sakit. Kita bersukacita ketika jalan hidup terasa lancar, lalu datang kepada Tuhan ketika menghadapi jalan buntu. Tidak ada yang salah dengan semua itu. Justru itulah wajah manusia yang sadar bahwa dirinya membutuhkan pertolongan. Namun, di bali...

Memoar Seorang Akung - Dari Telepon 4246 sampai Smartphone

Image
Malam ini aku menonton sebuah film lama. Judulnya The Contractor . Entah sudah film produksi tahun berapa. Yang menarik perhatianku justru bukan jalan ceritanya. Di salah satu adegan, seorang tokohnya menerima telepon menggunakan sebuah HP jadul. Belum smartphone. Layarnya kecil, tombolnya banyak, bentuknya masih tebal. Adegan itu hanya lewat beberapa detik. Tetapi entah kenapa, pikiranku langsung melompat hampir tiga puluh tahun ke belakang. "Lho... HP pertamaku dulu juga seperti itu." Nokia 5110 . Begitu nama itu muncul di kepalaku, seperti ada pintu tua yang perlahan terbuka. Satu demi satu kenangan keluar tanpa harus dipanggil. Lucunya, aku justru termasuk orang yang paling akhir memiliki HP dibanding teman-teman sekantor. Waktu itu hampir semua orang mulai membawa HP ke mana-mana. Rasanya keren. Ada sarung kulit yang dipasang di gesper celana. Kalau berjalan, HP itu menggantung di pinggang. Menjadi gaya hidup baru. Aku malah berpikir sebaliknya. "Untuk a...

Tidak Ada yang Mustahil?

Seorang anak kecil melihat ayahnya sedang memotong buah dengan pisau yang sangat tajam. Melihat itu si anak berkata "Yah, aku mau pinjam pisaunya, buat motong buah". Ayahnya tersenyum, tetapi menggeleng pelan. Anak itu merengek. Menurutnya, ayahnya pelit. Padahal baginya, memberikan pisau itu bukan perkara sulit. Yang tidak dipahami sang anak adalah: ayahnya bukan tidak mampu memberikan, tetapi tahu bahwa anaknya belum siap menerimanya. Anak itu menangis karena tidak diberi pisau. Ia mengira ayahnya tidak mengasihi. Bukankah kita sering seperti anak itu? Kita pun sering merengek, bahkan menangis karena Tuhan tidak memberikan apa yang kita minta. Kita lupa bahwa mungkin kita sedang memegang tangan Bapa yang sedang menjauhkan kita dari sesuatu yang belum sanggup kita tanggung. " Tidak ada yang mustahil bagi Allah " bukan berarti Allah akan memenuhi semua keinginan kita.  Justru karena tidak ada yang mustahil bagi-Nya, kita berani berserah bahwa apa pun yang Ia berikan...

Tuhan, Ajar Aku Berdanza

"Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu." - Amsal 3:5-6 Dalam sebuah perjalanan, saya pernah menyusun hampir seluruh agenda dengan sangat rinci. Jam berapa harus berangkat, kapan harus tiba, apa yang harus dilakukan, bahkan berapa lama waktu yang tersedia di setiap tempat. Namun seperti sering terjadi dalam hidup, tidak semua berjalan sesuai rencana. Ada jadwal yang bergeser, ada agenda yang berubah, dan ada situasi yang sama sekali tidak saya perhitungkan sebelumnya. Yang menarik, sumber kegelisahan saya ternyata bukan perubahan perubahan itu. Kegelisahan justru muncul karena saya terus berusaha mempertahankan agar segala sesuatu tetap berjalan sesuai rancangan semula. Sesuai kehendak dan pikiran saya.  Bukankah kita sering seperti itu? Kita merencanakan banyak hal. Itu tidak salah. Tuhan juga mengaruniakan akal budi agar kita dapat mempersiapkan diri...