Setengah Hari ke Kintamani: Pergi, Hadir, Pulang
Sejak balik dari rumah Naren di Tangsel tanggal 14 April lalu, rencana motoran ke Kintamani sudah berputar-putar di kepala. Bukan rencana besar—justru sederhana sekali. Mampir makan mujair nyatnyat di warung Jowet, lalu ngopi sambil melihat Gunung Batur dari Penelokan, membuka laptop, menyelesaikan beberapa urusan kemajelisan. Selebihnya, tidak ada. Bahkan soal berapa lama di sana pun tidak jelas. Barangkali memang bukan soal lamanya tinggal, tapi pengalaman selama perjalanan itu sendiri. Maka pagi itu, tanpa banyak menimbang lagi, aku memutuskan berangkat. Sekitar pukul 09.30 aku keluar dari rumah. Jaket parasut tipis kupakai sekadar melindungi tangan dari sengatan matahari Denpasar yang belakangan terasa tajam. Ransel berisi laptop ikut kubawa—meski belakangan baru kusadari, kacamata baca dan mouse tertinggal. Motor yang kupakai adalah Yamaha Vixion peninggalan masa kuliah Andra di Jogja, dengan plat AB yang masih setia menempel. Perjalanan dimulai lewat Jl. Nangka Uta...