Posts

Setengah Hari ke Kintamani: Pergi, Hadir, Pulang

Image
Sejak balik dari rumah Naren di Tangsel tanggal 14 April lalu, rencana motoran ke Kintamani sudah berputar-putar di kepala. Bukan rencana besar—justru sederhana sekali. Mampir makan mujair nyatnyat di warung Jowet, lalu ngopi sambil melihat Gunung Batur dari Penelokan, membuka laptop, menyelesaikan beberapa urusan kemajelisan. Selebihnya, tidak ada. Bahkan soal berapa lama di sana pun tidak jelas. Barangkali memang bukan soal lamanya tinggal, tapi pengalaman selama perjalanan itu sendiri. Maka pagi itu, tanpa banyak menimbang lagi, aku memutuskan berangkat. Sekitar pukul 09.30 aku keluar dari rumah. Jaket parasut tipis kupakai sekadar melindungi tangan dari sengatan matahari Denpasar yang belakangan terasa tajam. Ransel berisi laptop ikut kubawa—meski belakangan baru kusadari, kacamata baca dan mouse tertinggal. Motor yang kupakai adalah Yamaha Vixion peninggalan masa kuliah Andra di Jogja, dengan plat AB yang masih setia menempel. Perjalanan dimulai lewat Jl. Nangka Uta...

Jogja yang Tak Pernah Sepenuhnya Direncanakan

Image
Perjalanan ini sejak awal memang bukan perjalanan biasa. Bukan karena jaraknya jauh, tapi karena niatnya tidak sepenuhnya tentang tujuan. Ada sesuatu yang ingin dijalani. Sebuah laku. Sebuah jeda. Sebuah ruang untuk melihat diri sendiri lebih jernih. Aku memutuskan berangkat dari Denpasar menuju Jogja, bukan karena harus. Hanya karena ingin mampir. Ada tarikan yang sulit dijelaskan. Jogja selalu terasa seperti sosok ibu, yang memanggil pulang ketika waktu bermain sudah selesai. Hangat, diam, tapi kuat. Rencana awal sebenarnya cukup padat, meski hanya dalam waktu singkat. Pagi hari setibanya di Jogja, aku berniat sarapan di depot Surya nya Joni, bertemu dengan Pdt. Gunawan untuk berdiskusi mengenai satgas relawan. Lalu siang hari beralih ke rencana takziah ke Mbak Erna, ibunda almarhum Mas Angga yang baru saja berpulang dua minggu sebelumnya. Sore harinya, sudah terbayang diskusi bersama Prof. Koentjoro dan beberapa kolega, termasuk Mas Elda, besanku yang tinggal di Ponjong,...

Kramadangsa yang Disalibkan

P agi ini ada satu kesadaran sederhana: tidak selalu hidup dijalani dengan sadar. Banyak hal mengalir begitu saja—rasa muncul, reaksi terjadi, dan kramadangsa, “aku” yang melekat pada kepentingan dan pertahanan diri, diam-diam mengambil alih. Sepotong lagu yang terdengar di perjalanan— “Aku tak mengerti apa yang kurasa…”, sepotong lirik dari lagu "Kangen" Yang dinyanyikan Once Mekel, seakan menegaskan hal itu: rasa seringkali sudah bergerak, bahkan sebelum benar-benar dipahami. Kramadangsa tidak selalu salah. Ia hadir untuk bertahan. Namun ketika ia menjadi pusat, rasa mudah menguasai—hidup terasa tegang, penuh dorongan untuk menguasai, mempertahankan, dan memenangkan. Karena itu, perlu belajar berhenti sejenak—melihat, menyadari, dan mengenali rasa tanpa harus langsung mengikutinya. Dari sini mulai tampak bahwa tidak semua rasa harus dituruti, dan tidak semua reaksi perlu diwujudkan. Namun kesadaran akan rasa saja belum cukup. Dalam Kristus, langkah ini tidak berhenti pad...

Berisik Pagi: Menemukan Tuhan di Tengah Riuh

Pagi hari sering dibayangkan sebagai waktu yang tenang. Tapi kenyataannya tidak selalu begitu. Bahkan sejak bangun, berisik itu sudah mulai terasa. Notifikasi pesan singkat dari gadget mulai berdenting satu-satu, lama kelamaan semakin sering, dunia perlahan hidup, dan di dalam diri, pikiran juga ikut bergerak, mengingat apa yang belum selesai, memikirkan apa yang akan dijalani hari ini, bahkan membawa rasa-rasa, gagasan, keterpuasan, kekecewaan yang belum tuntas dari sebelumnya. Ternyata, sebelum apa pun dilakukan, batin ini sudah lebih dulu ramai. Di situ sering muncul anggapan bahwa untuk bisa berdoa dengan baik, perlu suasana yang tenang dulu. Seolah-olah Tuhan lebih mudah ditemui ketika semuanya sudah sunyi. Tetapi justru dalam keadaan seperti ini, firman Tuhan mengingatkan, “Hanya dekat Allah saja ada ketenangan” (Mazmur 62:2). Artinya, ketenangan itu bukan hasil dari situasi yang ideal, melainkan dari kedekatan. Kedekatan dengan Tuhan yang kita percaya tetap berjalan disamping ...

Kepergok Diri Sendiri

Pagi ini aku berjalan seperti biasa. Menyusuri jalanan, langkah demi langkah, ditemani musik yang mengalun pelan di telingaku melalui headset. Tapi yang lebih hidup justru di dalam: pikiran, rasa, raos, semuanya bergerak, muncul silih berganti. Aku sedang berlatih melihat. Melihat bukan hanya yang di luar, orang-orang, kendaraan, hal-hal kecil di sekitar, sampah di pinggir jalan yang masih bertebaran, kabel yang bergelantungan di setiap jalan bak sarang laba-laba, tapi juga yang di dalam. Percakapan batin, bayangan-bayangan, reaksi-reaksi halus yang sering kali luput. Lalu di tengah jalan pagi itu, aku menyadari sesuatu. Ternyata di dalam diriku ada kecenderungan yang halus, keinginan untuk diakui, untuk dianggap, untuk menjadi “sesuatu”. Ia tidak selalu muncul terang-terangan. Kadang ia berbalut niat baik. Kadang ia bersembunyi di balik hal-hal yang terlihat benar. Dan pagi ini, aku kepergok. Bukan oleh orang lain. Tapi oleh diriku sendiri. Aku berhenti sejenak di dalam hati. Melihat ...

Bukan Bebas Luka, Tapi Tidak Ditinggalkan

1 Yohanes 4:19 Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita . Ayat ini sering terasa mudah diamini, selama hidup sedang baik-baik saja. Tapi begitu hati terluka, hidup terasa tidak adil, ayat ini bisa terdengar jauh. Seolah-olah tidak nyambung dengan realita yang dihadapi. Mari kita pikirkan, mungkin masalahnya bukan pada ayatnya, tapi pada cara kita memahami kasih. Kita terbiasa mengartikan kasih sebagai kenyamanan, kebahagiaan, keterpenuhan. Selama itu ada, kita merasa dikasihi. Tapi ketika semua itu hilang, kita mulai bertanya: di mana kasih Allah? Ayat ini tidak sedang berbicara tentang perasaan enak. Kasih Allah bukan terutama soal membuat hidup kita bebas dari penderitaan. Kasih Allah adalah penyertaan. Ia tidak selalu mencegah luka, tapi Ia tidak meninggalkan kita di dalam luka itu. Dan ayat ini juga bukan perintah. Bukan “ ayo, tetaplah mengasihi ” seolah kita harus pura-pura kuat. Ini pernyataan. Bahwa ketika seseorang menyadari --- sungguh-sungguh menyadari --- b...

Iman yang Dijual, atau Hidup yang Dipanggil?

Pagi ini aku berjalan, seperti biasa olahraga ringan pagi. Langkah demi langkah terasa ringan, tapi lirik dari lagu ya g kudengar dari spotify yang justru terasa berat. Lagu itu dari grup Rock era 90an The Genesis, Phil Collin. Lagu tentang seseorang yang berkata: “Yesus kenal aku… dan aku benar.” Jesus, He Knows Me, I am right.  Sekilas terdengar rohani. Tapi semakin didengar, semakin terasa, ini bukan iman, ini sebuah kritik tajam. Yesus dipakai, bukan diikuti. Nama-Nya dijual, bukan dimuliakan. Dan anehnya… aku tidak sepenuhnya asing dengan makna lagu itu. Bukankah kadang aku juga: menggunakan bahasa iman untuk terlihat benar? menghindari pertobatan tapi tetap ingin disebut dekat dengan Tuhan? Lagu itu seperti membuka topeng: iman bisa menjadi identitas luar, tanpa perubahan dalam. Padahal Yesus tidak pernah menawarkan diri-Nya untuk dijual. Ia memanggil: “Keluarlah!” sebagaimana saat Ia memanggil Lazarus dari kematiannya, " Lazarus Keluarlah ". - Keluar dari kepalsuan. -...