Posts

The Art of Slow Travel

Saya memilih perjalanan darat yang panjang dengan bus antar provinsi, hampir dua puluh empat jam, bukan karena paling efisien, tetapi karena saya tidak sedang diburu waktu. Tidak ada agenda yang harus dikejar, kecuali satu hal yang sederhana namun bermakna: merayakan Natal bersama Naren, cucu saya. Selebihnya, perjalanan ini saya biarkan berjalan dengan ritmenya sendiri. Di dalam kabin yang sempit namun privat, saya belajar kembali mendengarkan tubuh. Lapar kecil tidak dituruti berlebihan. Makan secukupnya, minum seperlunya, obat diminum tepat waktu. Dalam perjalanan panjang, kenyamanan bukan soal memanjakan diri, melainkan menjaga agar tubuh tetap bersahabat. Tubuh yang tenang membuat perjalanan menjadi mungkin untuk dinikmati. Pemberhentian demi pemberhentian terasa seperti tanda baca. Tidak penting jika dilihat dari target tiba, tetapi menentukan irama cerita. Pagi di Bali, orang-orang ngopi santai di depan toko, tukang bangunan bersiap bekerja. Hidup berjalan pelan, tidak tergesa. ...

Otak, Iman, dan Tubuh Kristus: Dari Memori Negatif Menuju Neuroplasticity Spiritual

Tulisan ini memang bukan karya saya, melainkan hasil diskusi saya dengan AI yang membantu menganalisa, merelasikan dan memberikan makna dari berbagai pokok dalam diskusi kami.  Saya menemukan sebuah penjelasan yang bagi saya pribadi amat bermakna dalam mengembangkan kehidupan spiritualitas saya melalui karya ini. Sehingga saya berpikir barangkali akan bermakna juga kepada siapapun yang membacanya.  Berikut tulisan ini.  Otak Mengingat Celaan Selama Puluhan Tahun, tapi Melupakan Doa Dalam 30 Hari.  Manusia memiliki kecenderungan alami untuk lebih mengingat yang buruk dibanding yang baik. Sebuah riset psikologi menunjukkan bahwa kata-kata negatif dapat membekas hingga puluhan tahun, sementara pujian atau sanjungan kerap menguap hanya dalam hitungan minggu. Fenomena ini disebut negativity bias, dan berakar pada warisan evolusi manusia. Dalam sejarah panjang kelangsungan hidup, otak manusia dilatih untuk memprioritaskan informasi berbahaya agar dapat menghindari ancaman....

Narasi Reflektif: Kesadaran atas Kesadaran

Image
Hidup manusia tidak pernah sesederhana sekadar ketika ia sadar. Eksistensi tidak berhenti ketika kita tertidur, pingsan, atau berada dalam bius yang dalam. Dunia tetap berputar, orang lain tetap hidup dalam kesadarannya, kosmos terus berjalan dalam keteraturannya. Bahkan ketika kesadaran diri kita seolah padam, hidup tetap berlangsung dalam genggaman yang lebih besar. Dari pengalaman tidur, kita tahu bahwa “aku” masih hadir—meski dalam bentuk mimpi yang absurd. Namun dalam pengalaman deep sleep atau saat dibius total, lenyaplah semua: tiada memori, tiada ruang, tiada sensasi. Yang tersisa hanyalah “ketiadaan” dari sudut pandang kita. Namun, dunia di luar sana tidak berhenti. Dokter tetap bekerja, orang terkasih tetap cemas, semesta tetap bergerak. Ini menyadarkan kita bahwa eksistensi diri bukanlah pusat kosmos, melainkan hanya sebutir titik dalam arus besar kehidupan. Di sinilah manusia ditantang untuk menyadari bahwa kesadarannya rapuh dan terbatas. Namun justru di balik ...

Apakah Aku Seorang Pengikut, Atau Hanya Sekedar Penggemar?

Pengantar Semua ini berawal dari satu pertanyaan yang muncul di tengah perjalanan hidup rohani saya: Apakah saya benar-benar mengikuti Yesus… atau hanya sekadar menjadi penggemar-Nya? Pertanyaan itu muncul setelah saya membaca buku Not a Fan  dari Kyle Idleman. Saya belum selesai membacanya saat itu, tapi apa yang disampaikan penulisnya terasa sangat tepat menyentuh bagian terdalam dari hati saya. Saya merasa disapa—atau barangkali disindir—oleh kejujurannya. Di tengah aktivitas gereja, pelayanan, dan kegiatan yang silih berganti, saya tersadar bahwa bisa jadi selama ini saya hanya berdiri dekat dengan Yesus, tapi belum sungguh berjalan di belakang-Nya. Masa prapaskah pun sedang berlangsung. Empat puluh hari, yang dalam tradisi Kristen diisi dengan berpantang, berdoa, dan berderma. Bersamaan dengan itu, saya baru saja diteguhkan sebagai penatua—pelayan jemaat di gereja saya. Semua itu seperti saling menyambut, saling melengkapi, dan akhirnya mengarah pada satu pergumulan besar...

Slintru Biru

Image
..... Slintru mencerminkan luwesnya hidup, yang tidak menuntut kejelasan mutlak, tapi kepekaan terhadap suasana .....  Di rumah tua kami di Ketanggungan, Yogyakarta, ada satu benda yang menjadi saksi bisu masa kecil: Slintru Biru. Ia bukan sekadar sekat, tapi penjaga rasa antara "njobo" dan "njero", antara ruang tamu yang kami sebut ngajengan, dan ruang keluarga tempat kehidupan sehari-hari berlangsung. Slintru itu memiliki bentuk khas: dua rangka kayu berukir, bisa dibuka lipat seperti sayap, atau ditutup rapat kala privasi dibutuhkan. Di atasnya, ukiran burung merpati putih saling menghadap, paruhnya menggigit buah bulat kecil seperti anggur. Di sekelilingnya, daun hijau berliuk dan bunga-bunga kecil kuning merambat dengan halus, dilapisi bingkai merah tipis di bawahnya. Rangka itu menopang layar dari plastik tebal berwarna biru yang jika terkena cahaya akan menyaring sinar menjadi biru temaram. Tidak sepenuhnya transparan, tapi cukup memberi siluet sa...

Saat Malam Tak Perlu Dijelaskan

Image
Ada malam-malam yang datang bukan untuk diisi, melainkan untuk membiarkan hati duduk diam, menyandarkan lelahnya di dinding kenangan. Di kampung kecil Ketanggungan, Jogja yang kini hanya tinggal potongan dalam ingatan, suara malam pernah begitu jujur — orong-orong memulai senandung sejak senja, disusul jangkrik yang menunggu giliran saat lampu petromaks menyala dan suara manusia mulai terdengar sayup dikejauhan. Di ruang tengah, tikar dari anyaman daun pandan digelar perlahan di lantai. Bantal kapuk disandarkan, dan tubuh kecil rebah di atasnya, merasakan sejuk yang menjalar pelan dari kulit ke hati. Di sudut ruangan, radio transistor bergumam sayup, membacakan warta dari RRI di gelombang MW, sesekali terselip keroncong lawas atau suara penyiar yang seperti berbicara hanya pada satu orang. Tak ada ponsel. Tak ada janji yang harus ditepati pagi-pagi. Hanya langit-langit rumah yang diamati sambil berkhayal: tentang menjadi orang besar, tentang sekolah jauh, tentang sesuatu ya...

Disinformasi, Apatisme Politik, dan Peran Media

Image
.... Demokrasi yang kuat hanya bisa bertahan jika warganya tetap peduli dan terlibat. Sebaliknya, ketika apatisme menjadi norma, maka siapa yang mengendalikan informasi, dialah yang mengendalikan arah masa depan. Di tengah derasnya arus informasi digital, masyarakat modern semakin dihadapkan pada paradoks yang menarik: meskipun informasi tersedia dalam jumlah yang melimpah, minat terhadap politik dan berita yang bersifat strategis justru menurun. Perdebatan mengenai hoaks politik, pengaruh troll army, dan strategi disinformasi yang terstruktur telah membuka mata kita bahwa ada mekanisme sosial yang bekerja dalam mengendalikan perhatian publik. Fenomena ini tidak hanya sekadar efek samping dari kemajuan teknologi, tetapi juga merupakan bagian dari dinamika politik, ekonomi, dan psikologi sosial yang lebih besar. Fenomena Hoaks Politik dan Strategi Disinformasi Kasus terbaru mengenai hoaks yang menimpa Ganjar Pranowo menjadi salah satu contoh bagaimana disinformasi beroperasi...