Di Bawah Beringin Tua di TMP Margarana
Pagi ini, saat aku mengantar istri yang mengikuti upacara tabur bunga bersama kantornya, aku duduk didalam mobil, dibawah rindangnya sebuah beringin tua di Taman Makam Pahlawan Margarana. Batangnya begitu besar, akar-akarnya menjuntai dan sebagian telah menjadi penyangga yang kokoh bagi tubuhnya sendiri. Tajuknya menaungi siapa saja yang berada di bawahnya. Burung-burung datang dan pergi, sementara anjing-anjing milik warga berkeliaran dengan tenang di antara pepohonan. Kehidupan tetap berlangsung di tempat yang dipenuhi kenangan tentang mereka yang telah lebih dahulu menyelesaikan perjalanan hidupnya. Ketika memandang beringin yang sepintas berkesan mistis itu, tanpa disadari muncul pula berbagai ingatan dan cerita yang pernah melekat sejak masa kecil. Tentang pohon besar yang dianggap angker, tentang penunggu, dan berbagai kisah yang hidup dalam budaya. Saat itulah timbul pertanyaan di dalam diri, mengapa kesan-kesan semacam itu begitu mudah muncul? Pertanyaan sederhana i...