Kepergok Diri Sendiri
Pagi ini aku berjalan seperti biasa. Menyusuri jalanan, langkah demi langkah, ditemani musik yang mengalun pelan di telingaku melalui headset. Tapi yang lebih hidup justru di dalam: pikiran, rasa, raos, semuanya bergerak, muncul silih berganti. Aku sedang berlatih melihat. Melihat bukan hanya yang di luar, orang-orang, kendaraan, hal-hal kecil di sekitar, sampah di pinggir jalan yang masih bertebaran, kabel yang bergelantungan di setiap jalan bak sarang laba-laba, tapi juga yang di dalam. Percakapan batin, bayangan-bayangan, reaksi-reaksi halus yang sering kali luput. Lalu di tengah jalan pagi itu, aku menyadari sesuatu. Ternyata di dalam diriku ada kecenderungan yang halus, keinginan untuk diakui, untuk dianggap, untuk menjadi “sesuatu”. Ia tidak selalu muncul terang-terangan. Kadang ia berbalut niat baik. Kadang ia bersembunyi di balik hal-hal yang terlihat benar. Dan pagi ini, aku kepergok. Bukan oleh orang lain. Tapi oleh diriku sendiri. Aku berhenti sejenak di dalam hati. Melihat ...