Posts

Showing posts with the label Refleksi

Kramadangsa yang Disalibkan

P agi ini ada satu kesadaran sederhana: tidak selalu hidup dijalani dengan sadar. Banyak hal mengalir begitu saja—rasa muncul, reaksi terjadi, dan kramadangsa, “aku” yang melekat pada kepentingan dan pertahanan diri, diam-diam mengambil alih. Sepotong lagu yang terdengar di perjalanan— “Aku tak mengerti apa yang kurasa…”, sepotong lirik dari lagu "Kangen" Yang dinyanyikan Once Mekel, seakan menegaskan hal itu: rasa seringkali sudah bergerak, bahkan sebelum benar-benar dipahami. Kramadangsa tidak selalu salah. Ia hadir untuk bertahan. Namun ketika ia menjadi pusat, rasa mudah menguasai—hidup terasa tegang, penuh dorongan untuk menguasai, mempertahankan, dan memenangkan. Karena itu, perlu belajar berhenti sejenak—melihat, menyadari, dan mengenali rasa tanpa harus langsung mengikutinya. Dari sini mulai tampak bahwa tidak semua rasa harus dituruti, dan tidak semua reaksi perlu diwujudkan. Namun kesadaran akan rasa saja belum cukup. Dalam Kristus, langkah ini tidak berhenti pad...

Berisik Pagi: Menemukan Tuhan di Tengah Riuh

Pagi hari sering dibayangkan sebagai waktu yang tenang. Tapi kenyataannya tidak selalu begitu. Bahkan sejak bangun, berisik itu sudah mulai terasa. Notifikasi pesan singkat dari gadget mulai berdenting satu-satu, lama kelamaan semakin sering, dunia perlahan hidup, dan di dalam diri, pikiran juga ikut bergerak, mengingat apa yang belum selesai, memikirkan apa yang akan dijalani hari ini, bahkan membawa rasa-rasa, gagasan, keterpuasan, kekecewaan yang belum tuntas dari sebelumnya. Ternyata, sebelum apa pun dilakukan, batin ini sudah lebih dulu ramai. Di situ sering muncul anggapan bahwa untuk bisa berdoa dengan baik, perlu suasana yang tenang dulu. Seolah-olah Tuhan lebih mudah ditemui ketika semuanya sudah sunyi. Tetapi justru dalam keadaan seperti ini, firman Tuhan mengingatkan, “Hanya dekat Allah saja ada ketenangan” (Mazmur 62:2). Artinya, ketenangan itu bukan hasil dari situasi yang ideal, melainkan dari kedekatan. Kedekatan dengan Tuhan yang kita percaya tetap berjalan disamping ...

Kepergok Diri Sendiri

Pagi ini aku berjalan seperti biasa. Menyusuri jalanan, langkah demi langkah, ditemani musik yang mengalun pelan di telingaku melalui headset. Tapi yang lebih hidup justru di dalam: pikiran, rasa, raos, semuanya bergerak, muncul silih berganti. Aku sedang berlatih melihat. Melihat bukan hanya yang di luar, orang-orang, kendaraan, hal-hal kecil di sekitar, sampah di pinggir jalan yang masih bertebaran, kabel yang bergelantungan di setiap jalan bak sarang laba-laba, tapi juga yang di dalam. Percakapan batin, bayangan-bayangan, reaksi-reaksi halus yang sering kali luput. Lalu di tengah jalan pagi itu, aku menyadari sesuatu. Ternyata di dalam diriku ada kecenderungan yang halus, keinginan untuk diakui, untuk dianggap, untuk menjadi “sesuatu”. Ia tidak selalu muncul terang-terangan. Kadang ia berbalut niat baik. Kadang ia bersembunyi di balik hal-hal yang terlihat benar. Dan pagi ini, aku kepergok. Bukan oleh orang lain. Tapi oleh diriku sendiri. Aku berhenti sejenak di dalam hati. Melihat ...

Narasi Reflektif: Kesadaran atas Kesadaran

Image
Hidup manusia tidak pernah sesederhana sekadar ketika ia sadar. Eksistensi tidak berhenti ketika kita tertidur, pingsan, atau berada dalam bius yang dalam. Dunia tetap berputar, orang lain tetap hidup dalam kesadarannya, kosmos terus berjalan dalam keteraturannya. Bahkan ketika kesadaran diri kita seolah padam, hidup tetap berlangsung dalam genggaman yang lebih besar. Dari pengalaman tidur, kita tahu bahwa “aku” masih hadir—meski dalam bentuk mimpi yang absurd. Namun dalam pengalaman deep sleep atau saat dibius total, lenyaplah semua: tiada memori, tiada ruang, tiada sensasi. Yang tersisa hanyalah “ketiadaan” dari sudut pandang kita. Namun, dunia di luar sana tidak berhenti. Dokter tetap bekerja, orang terkasih tetap cemas, semesta tetap bergerak. Ini menyadarkan kita bahwa eksistensi diri bukanlah pusat kosmos, melainkan hanya sebutir titik dalam arus besar kehidupan. Di sinilah manusia ditantang untuk menyadari bahwa kesadarannya rapuh dan terbatas. Namun justru di balik ...