Berisik Pagi: Menemukan Tuhan di Tengah Riuh
Pagi hari sering dibayangkan sebagai waktu yang tenang. Tapi kenyataannya tidak selalu begitu. Bahkan sejak bangun, berisik itu sudah mulai terasa. Notifikasi pesan singkat dari gadget mulai berdenting satu-satu, lama kelamaan semakin sering, dunia perlahan hidup, dan di dalam diri, pikiran juga ikut bergerak, mengingat apa yang belum selesai, memikirkan apa yang akan dijalani hari ini, bahkan membawa rasa-rasa, gagasan, keterpuasan, kekecewaan yang belum tuntas dari sebelumnya.
Ternyata, sebelum apa pun dilakukan, batin ini sudah lebih dulu ramai.
Di situ sering muncul anggapan bahwa untuk bisa berdoa dengan baik, perlu suasana yang tenang dulu. Seolah-olah Tuhan lebih mudah ditemui ketika semuanya sudah sunyi. Tetapi justru dalam keadaan seperti ini, firman Tuhan mengingatkan, “Hanya dekat Allah saja ada ketenangan” (Mazmur 62:2). Artinya, ketenangan itu bukan hasil dari situasi yang ideal, melainkan dari kedekatan. Kedekatan dengan Tuhan yang kita percaya tetap berjalan disamping kita, bahkan ketika kepala kita penuh berisik, penuh rencana, penuh gagasan seperti pagi ini.
Berisik itu tidak harus hilang lebih dulu.
Pikiran boleh tetap bergerak, dunia boleh tetap ramai, tetapi hati tetap bisa diarahkan. Itulah sebabnya nasihat “Berdoalah tanpa henti” (1 Tesalonika 5:17) menjadi masuk akal. Bukan berarti hidup tanpa gangguan, melainkan tetap membawa kesadaran akan Tuhan di tengah semua yang berjalan.
Maka berisik pagi bukan sesuatu yang harus dilawan atau dihindari. Justru di situlah latihan itu terjadi; belajar menyadari apa yang muncul, tanpa harus larut di dalamnya, dan perlahan kembali mengarahkan hati kepada Tuhan.
Keheningan yang dicari ternyata bukan keadaan tanpa suara, melainkan keadaan hati yang tetap terarah , bahkan ketika segala sesuatu di dalam dan di luar sedang ramai.
Denpasar Utara 270326