Manggala Dari Paitunan-6
Bayangan Pemberontakan Setelah dituduh sebagai bagian dari pengkhianatan, Naren dan Wiro tetap berada di istana dengan langkah serba hati-hati. Mereka tidak bisa langsung melarikan diri sebab setiap gerakan akan dicurigai. Mereka harus menunggu kesempatan yang tepat. Ketika keduanya masih menimbang langkah selanjutnya, seorang punggawa kerajaan dengan pakaian kebesaran melangkah masuk ke ruangan dengan penuh hormat. Ia memberi salam kepada **Ndoro Putri Ajeng**, lalu menatap Naren dan Wiro dengan mata penuh tanda tanya sebelum duduk bersila dengan sopan. “Hamba mohon izin, Ndoro Putri,” ujarnya dengan suara berwibawa. “Ada perintah dari dalam istana bahwa kedua pemuda ini adalah bagian dari kelompok pengkhianat kerajaan. Hamba diperintahkan untuk menyerahkan mereka kepada pengawal utama.” Mata Ndoro Putri Ajeng menyipit. Ia menatap punggawa itu dengan tenang, tetapi sorot matanya tajam penuh makna. “Kedua pemuda ini adalah tamuku. Urusan mereka berada dalam tanggung jawabku,” ucapnya d...