HARUM KENANGAN DI BAWAH POHON KOPI TUA
Halaman rumah tua kami di kampung Ketanggungan, Yogyakarta, dulu cukup luas dan dipenuhi pepohonan. Di bagian depan rumah, dekat garasi mobil dan pintu masuk berdiri pohon alpukat yang menjulang tinggi, buahnya sering bergelayut lebat di antara dedaunan hijau pekat. Setiap kali musim panen, buahnya dikumpulkan, dan aku paling suka ketika mengolahnya dengan gula, diaduk hingga lembut seperti bubur bayi yang manis dan gurih. Tapi ketika musim ulat, puluhan uler kékét yang besarnya sekelingking orang dewasa dan berwarna hijau muda tampak menggelikan sekaligus berbahaya bila bulunya menempel di kulit dan menyebabkan rasa gatal dan panas. Sedangkan dipinggir halaman, berjajar pohon waru dengan daun lebatnya, membentuk pagar alami yang memisahkan rumah kami dari lingkungan disekitarnya. Burung-burung kecil, seperti prenjak atau trucukan sering bertengger di rantingnya saat pagi, berkicau riang seolah menyambut matahari yang mulai menembus dedaunan. Udara pagi ...