Posts

Showing posts with the label Yogyakarta

Saat Malam Tak Perlu Dijelaskan

Image
Ada malam-malam yang datang bukan untuk diisi, melainkan untuk membiarkan hati duduk diam, menyandarkan lelahnya di dinding kenangan. Di kampung kecil Ketanggungan, Jogja yang kini hanya tinggal potongan dalam ingatan, suara malam pernah begitu jujur — orong-orong memulai senandung sejak senja, disusul jangkrik yang menunggu giliran saat lampu petromaks menyala dan suara manusia mulai terdengar sayup dikejauhan. Di ruang tengah, tikar dari anyaman daun pandan digelar perlahan di lantai. Bantal kapuk disandarkan, dan tubuh kecil rebah di atasnya, merasakan sejuk yang menjalar pelan dari kulit ke hati. Di sudut ruangan, radio transistor bergumam sayup, membacakan warta dari RRI di gelombang MW, sesekali terselip keroncong lawas atau suara penyiar yang seperti berbicara hanya pada satu orang. Tak ada ponsel. Tak ada janji yang harus ditepati pagi-pagi. Hanya langit-langit rumah yang diamati sambil berkhayal: tentang menjadi orang besar, tentang sekolah jauh, tentang sesuatu ya...

Kesunyian Natal yang Tak Terlupakan

Image
Yogyakarta, Tahun 1979 Malam itu tanggal 24  Desember 1979, langit Yogyakarta masih diguyur gerimis tipis sejak sore. Suasana begitu sunyi. Tak ada suara anak-anak bermain petasan, tak ada kendaraan yang melintas di jalan depan rumah. Biasanya, setiap Natal atau Idul Fitri, beberapa kakak dan saudara yang tinggal diluar kota pulang ke rumah di Yogyakarta, membawa suasana yang lebih ramai. Namun, Natal kali ini berbeda. Tak ada satupun kerabat yang pulang. Hanya ada ibu, adek, dan aku. Sepi. Aku ingin sekali merasakan Natal yang lebih bermakna. Mengikuti misa tengah malam di Gereja Katolik Pugeran adalah keinginan yang sudah kupendam sejak siang. Namun, siapa yang akan menemaniku? Ibu sudah berencana pergi misa tanggal 25 Desember siang hari. Ibu juga sempat mengajakku untuk mengikuti misa bersama, tapi kali ini aku ingin mendapatkan suasana yang berbeda, mengikuti misa tengah malam. Kali itu, aku sempat berharap bisa berangkat bersama Prawoto, tetangga yang juga Katolik...

HARUM KENANGAN DI BAWAH POHON KOPI TUA

Image
Halaman rumah tua kami di kampung Ketanggungan, Yogyakarta, dulu cukup luas dan dipenuhi pepohonan. Di bagian depan rumah, dekat garasi mobil dan pintu masuk berdiri pohon alpukat yang menjulang tinggi, buahnya sering bergelayut lebat di antara dedaunan hijau pekat. Setiap kali musim panen, buahnya dikumpulkan, dan aku paling suka ketika mengolahnya dengan gula, diaduk hingga lembut seperti bubur bayi yang manis dan gurih. Tapi ketika musim ulat, puluhan  uler kékét   yang besarnya sekelingking orang dewasa dan berwarna hijau muda tampak menggelikan sekaligus berbahaya bila bulunya menempel di kulit dan menyebabkan rasa gatal dan panas.  Sedangkan dipinggir halaman, berjajar pohon waru dengan daun lebatnya, membentuk pagar alami yang memisahkan rumah kami dari lingkungan disekitarnya. Burung-burung kecil, seperti prenjak atau trucukan sering bertengger di rantingnya saat pagi, berkicau riang seolah menyambut matahari yang mulai menembus dedaunan. Udara pagi ...

Saksi Bisu di Halaman Rumah Tua

Image
Di halaman rumah tua kami di Yogyakarta, berdiri sebuah pohon nangka besar di sebelah dapur. Batangnya kokoh, dahannya lebar, dan daunnya rimbun, menciptakan keteduhan yang menyejukkan bahkan di siang hari yang terik. Di bawah pohon inilah banyak kisah masa kecilku dan saudara-saudaraku terukir. Sejak aku masih kecil, sekitar enam tahun, mbak Toet, mbak Nuk, dan Paijem, anak Mbok Parto, pembantu keluarga kami sering menggelar tikar di bawahnya. Pohon nangka ini bukan hanya sekadar peneduh, tapi juga tempat berkumpul, tempat melepas lelah, dan tempat berbagi cerita. Di sana, Paijem dengan tekun menyisir rambut mbak Toet dengan suri, sisir lembut yang terbuat dari tanduk kerbau, mencari kutu yang saat itu masih lazim bagi pemilik rambut panjang. Sambil tiduran di tikar, suara radio transistor dua band AM dan MW mengalun lembut, memutar lagu-lagu lawas atau lawakan khas Basiyo yang selalu berhasil membuat kami tertawa. Namun, ada satu kejadian yang selalu kami waspadai saat du...

Misteri Drumband yang Hilang di Angin Pagi

Image
(Yogyakarta, Sekitar Tahun 1976an) Sejak kecil, aku sudah sering mendengar cerita tentang suara drumband gaib yang muncul menjelang subuh di kota tempat kelahiranku, Yogyakarta.  Beberapa teman di kampung pernah membicarakannya — bahwa pada waktu-waktu tertentu, terdengar alunan suara drumband yang seolah berasal dari kejauhan, tetapi ketika dikejar, suaranya malah menghilang begitu saja. Aku yang masih anak-anak waktu itu tentu penasaran. Benarkah ada suara drumband tanpa wujud dan tidak ketahuan sumber suaranya.?  Aku pernah menanyakan hal ini kepada ibu sebelum tidur, berharap mendapat jawaban yang lebih pasti. Ibu tidak menolak pertanyaanku, tapi justru menceritakan mitos yang sudah lama dipercaya orang-orang tua. "Mungkin itu pasukan tentara Mataram zaman dulu," kata ibu dengan suara lembutnya. Aku terbelalak. "Tentara Mataram, Bu?" tanyaku heran. Ibu mengangguk pelan. "Katanya, ada masanya arwah mereka berjalan kembali, berbaris menuju medan p...

Petualangan Masa Kecil

Image
Pagi itu, matahari masih setengah naik di ufuk timur. Udara segar berembus perlahan, membawa aroma tanah basah yang khas dari kampung Ketanggungan, Yogyakarta, tahun 1975-an. Cahaya matahari yang lembut menyapu jalanan desa yang masih lengang, hanya sesekali dilalui sepeda dan becak. Kendaraan bermotor masih jarang, sehingga suasana terasa lebih tenang dan alami. Aku tidak sendiri. Tetanggaku, Ngatino, yang beberapa tahun lebih tua dariku, sudah siap dengan sepedanya. Kami akan pergi berburu burung di sawah dan tegalan di belakang Panti Sosial Nitipuran, yang kala itu lebih akrab kami sebut Tipuran. Senapan angin kaliber 4.5 tersampir di punggungku, dan sekotak peluru pelet tersimpan rapi di saku celanaku. Perjalanan dimulai dari kampung Ketanggungan, menuju arah barat melewati kampung Suronggaman. Nama kampung ini membawa cerita-cerita seram yang sudah lama menjadi bagian dari cerita rakyat sekitar. Konon, orang-orangnya dikenal keras dan sulit ditebak. Maka, setiap kali m...

Jejak Langkah di Pinggir Kota Jogja

Image
Langit pagi di Ketanggungan, Yogyakarta, tahun 1970-an, masih bersih dari hiruk-pikuk kendaraan bermotor. Kampung kecil di pinggir kota itu hidup dalam keteraturan sederhana, di mana anak-anak bermain di halaman rumah dan gang-gang sempit yang menjadi bagian dari keseharian mereka. Di antara anak-anak itu, ada seorang bocah bernama Bowo, yang lebih akrab dipanggil "Dhen-gus" oleh orang-orang kampung. Panggilan yang sesungguhnya ia tidak sukaisukai karena menjauhkannya dengan banyak teman sebaya di kampung yang.  Bowo tumbuh dalam keluarga ningrat. Rumahnya rumah tua peninggalan jaman dulu, yang kata eyangnya dulu jaman belanda sempat menjadi rumah sakit untuk menolong para pejuang. Rumah itu punya banyak ornamen khas arsitektur Jawa. Ibunya, seorang wanita kuat yang membesarkan sepuluh anak seorang diri setelah suaminya wafat, selalu menekankan disiplin dan kehormatan keluarga. Namun, bagi Bowo, itu berarti batasan yang kaku—larangan bermain ke rumah teman, peratu...