Posts

Showing posts with the label Renungan

Ketika Anugerah Berubah Jadi Hak

Masih ingat cerita komedian eks Srimulat, Nunung? Selama bertahun-tahun ia membantu banyak anggota keluarganya. Pada awalnya bantuan itu diterima dengan rasa syukur. Namun seiring waktu, sesuatu yang menarik terjadi. Bantuan yang semula dipandang sebagai kebaikan perlahan berubah menjadi sesuatu yang dianggap wajar. Harapan pun tumbuh. Dan ketika suatu saat bantuan itu tidak lagi dapat diberikan, muncullah kekecewaan. Dan saat Nunung bangkrut, ia ditinggalkan oleh orang yang selama ini dibantunya.  Tentu renungan ini bukan sedang membahas Nunung ataupun keluarganya. Yang menarik justru adalah bagaimana hati manusia bekerja. Bukankah hal seperti itu juga dapat terjadi dalam banyak relasi? Sesuatu yang semula diterima sebagai anugerah, perlahan dapat berubah menjadi sesuatu yang kita anggap sebagai hak. Perenungan itu membawa kita melihat kehidupan rohani dari sudut yang berbeda. Sebagian besar dari kita mulai mencari Allah karena kebutuhan. Kita datang kepada-Nya ketika merasa tidak...

Dari Kebutuhan Menuju Pribadi Allah

Sejak lahir, manusia hidup dengan berbagai kebutuhan. Ketika lapar, kita mencari makanan. Ketika haus, kita mencari minuman. Ketika merasa tidak aman, kita mencari perlindungan. Ketika terluka, kita mencari pemulihan. Dalam psikologi dikenal sebuah gagasan yang disebut pleasure principle , yaitu kecenderungan manusia untuk mencari apa yang menyenangkan dan menghindari apa yang menimbulkan kesulitan atau penderitaan. Semakin direnungkan, prinsip ini ternyata tidak hanya tampak dalam kehidupan sehari-hari, tetapi juga dalam kehidupan rohani. Coba perhatikan doa-doa kita. Sebagian besar berisi ucapan syukur karena sesuatu telah diterima, atau permohonan agar Tuhan memenuhi kebutuhan yang sedang dihadapi. Kita bersyukur ketika sehat, memohon ketika sakit. Kita bersukacita ketika jalan hidup terasa lancar, lalu datang kepada Tuhan ketika menghadapi jalan buntu. Tidak ada yang salah dengan semua itu. Justru itulah wajah manusia yang sadar bahwa dirinya membutuhkan pertolongan. Namun, di bali...

Tuhan, Ajar Aku Berdanza

"Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu." - Amsal 3:5-6 Dalam sebuah perjalanan, saya pernah menyusun hampir seluruh agenda dengan sangat rinci. Jam berapa harus berangkat, kapan harus tiba, apa yang harus dilakukan, bahkan berapa lama waktu yang tersedia di setiap tempat. Namun seperti sering terjadi dalam hidup, tidak semua berjalan sesuai rencana. Ada jadwal yang bergeser, ada agenda yang berubah, dan ada situasi yang sama sekali tidak saya perhitungkan sebelumnya. Yang menarik, sumber kegelisahan saya ternyata bukan perubahan perubahan itu. Kegelisahan justru muncul karena saya terus berusaha mempertahankan agar segala sesuatu tetap berjalan sesuai rancangan semula. Sesuai kehendak dan pikiran saya.  Bukankah kita sering seperti itu? Kita merencanakan banyak hal. Itu tidak salah. Tuhan juga mengaruniakan akal budi agar kita dapat mempersiapkan diri...

Kramadangsa yang Disalibkan

P agi ini ada satu kesadaran sederhana: tidak selalu hidup dijalani dengan sadar. Banyak hal mengalir begitu saja—rasa muncul, reaksi terjadi, dan kramadangsa, “aku” yang melekat pada kepentingan dan pertahanan diri, diam-diam mengambil alih. Sepotong lagu yang terdengar di perjalanan— “Aku tak mengerti apa yang kurasa…”, sepotong lirik dari lagu "Kangen" Yang dinyanyikan Once Mekel, seakan menegaskan hal itu: rasa seringkali sudah bergerak, bahkan sebelum benar-benar dipahami. Kramadangsa tidak selalu salah. Ia hadir untuk bertahan. Namun ketika ia menjadi pusat, rasa mudah menguasai—hidup terasa tegang, penuh dorongan untuk menguasai, mempertahankan, dan memenangkan. Karena itu, perlu belajar berhenti sejenak—melihat, menyadari, dan mengenali rasa tanpa harus langsung mengikutinya. Dari sini mulai tampak bahwa tidak semua rasa harus dituruti, dan tidak semua reaksi perlu diwujudkan. Namun kesadaran akan rasa saja belum cukup. Dalam Kristus, langkah ini tidak berhenti pad...

Berisik Pagi: Menemukan Tuhan di Tengah Riuh

Pagi hari sering dibayangkan sebagai waktu yang tenang. Tapi kenyataannya tidak selalu begitu. Bahkan sejak bangun, berisik itu sudah mulai terasa. Notifikasi pesan singkat dari gadget mulai berdenting satu-satu, lama kelamaan semakin sering, dunia perlahan hidup, dan di dalam diri, pikiran juga ikut bergerak, mengingat apa yang belum selesai, memikirkan apa yang akan dijalani hari ini, bahkan membawa rasa-rasa, gagasan, keterpuasan, kekecewaan yang belum tuntas dari sebelumnya. Ternyata, sebelum apa pun dilakukan, batin ini sudah lebih dulu ramai. Di situ sering muncul anggapan bahwa untuk bisa berdoa dengan baik, perlu suasana yang tenang dulu. Seolah-olah Tuhan lebih mudah ditemui ketika semuanya sudah sunyi. Tetapi justru dalam keadaan seperti ini, firman Tuhan mengingatkan, “Hanya dekat Allah saja ada ketenangan” (Mazmur 62:2). Artinya, ketenangan itu bukan hasil dari situasi yang ideal, melainkan dari kedekatan. Kedekatan dengan Tuhan yang kita percaya tetap berjalan disamping ...

Kepergok Diri Sendiri

Pagi ini aku berjalan seperti biasa. Menyusuri jalanan, langkah demi langkah, ditemani musik yang mengalun pelan di telingaku melalui headset. Tapi yang lebih hidup justru di dalam: pikiran, rasa, raos, semuanya bergerak, muncul silih berganti. Aku sedang berlatih melihat. Melihat bukan hanya yang di luar, orang-orang, kendaraan, hal-hal kecil di sekitar, sampah di pinggir jalan yang masih bertebaran, kabel yang bergelantungan di setiap jalan bak sarang laba-laba, tapi juga yang di dalam. Percakapan batin, bayangan-bayangan, reaksi-reaksi halus yang sering kali luput. Lalu di tengah jalan pagi itu, aku menyadari sesuatu. Ternyata di dalam diriku ada kecenderungan yang halus, keinginan untuk diakui, untuk dianggap, untuk menjadi “sesuatu”. Ia tidak selalu muncul terang-terangan. Kadang ia berbalut niat baik. Kadang ia bersembunyi di balik hal-hal yang terlihat benar. Dan pagi ini, aku kepergok. Bukan oleh orang lain. Tapi oleh diriku sendiri. Aku berhenti sejenak di dalam hati. Melihat ...

Bukan Bebas Luka, Tapi Tidak Ditinggalkan

1 Yohanes 4:19 Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita . Ayat ini sering terasa mudah diamini, selama hidup sedang baik-baik saja. Tapi begitu hati terluka, hidup terasa tidak adil, ayat ini bisa terdengar jauh. Seolah-olah tidak nyambung dengan realita yang dihadapi. Mari kita pikirkan, mungkin masalahnya bukan pada ayatnya, tapi pada cara kita memahami kasih. Kita terbiasa mengartikan kasih sebagai kenyamanan, kebahagiaan, keterpenuhan. Selama itu ada, kita merasa dikasihi. Tapi ketika semua itu hilang, kita mulai bertanya: di mana kasih Allah? Ayat ini tidak sedang berbicara tentang perasaan enak. Kasih Allah bukan terutama soal membuat hidup kita bebas dari penderitaan. Kasih Allah adalah penyertaan. Ia tidak selalu mencegah luka, tapi Ia tidak meninggalkan kita di dalam luka itu. Dan ayat ini juga bukan perintah. Bukan “ ayo, tetaplah mengasihi ” seolah kita harus pura-pura kuat. Ini pernyataan. Bahwa ketika seseorang menyadari --- sungguh-sungguh menyadari --- b...

Iman yang Dijual, atau Hidup yang Dipanggil?

Pagi ini aku berjalan, seperti biasa olahraga ringan pagi. Langkah demi langkah terasa ringan, tapi lirik dari lagu ya g kudengar dari spotify yang justru terasa berat. Lagu itu dari grup Rock era 90an The Genesis, Phil Collin. Lagu tentang seseorang yang berkata: “Yesus kenal aku… dan aku benar.” Jesus, He Knows Me, I am right.  Sekilas terdengar rohani. Tapi semakin didengar, semakin terasa, ini bukan iman, ini sebuah kritik tajam. Yesus dipakai, bukan diikuti. Nama-Nya dijual, bukan dimuliakan. Dan anehnya… aku tidak sepenuhnya asing dengan makna lagu itu. Bukankah kadang aku juga: menggunakan bahasa iman untuk terlihat benar? menghindari pertobatan tapi tetap ingin disebut dekat dengan Tuhan? Lagu itu seperti membuka topeng: iman bisa menjadi identitas luar, tanpa perubahan dalam. Padahal Yesus tidak pernah menawarkan diri-Nya untuk dijual. Ia memanggil: “Keluarlah!” sebagaimana saat Ia memanggil Lazarus dari kematiannya, " Lazarus Keluarlah ". - Keluar dari kepalsuan. -...

Masuk ke Kedalaman, Berjumpa dengan Kristus

Ada kalanya kita mencari Tuhan ke mana-mana. Kita sibuk dengan aktivitas rohani, pelayanan, berdiskusi, seolah Tuhan itu jauh dan harus dikejar keluar dari diri kita. Namun firman Tuhan mengajak kita berhenti sejenak. Mengajak kita masuk kedalam. Bukan untuk menemukan “keilahian diri”, tetapi untuk berjumpa dengan Tuhan yang sudah lebih dahulu hadir di sana. Di dalam keheningan hati, kita mulai menyadari sesuatu: Bahwa hidup kita ini bukan berdiri sendiri. Ada Pribadi yang menopang, menghidupi, dan mengenal kita lebih dalam daripada kita mengenal diri sendiri . Bukan kita adalah Tuhan. Tetapi Tuhan berkenan diam di dalam kita. Dan dari situ lahir kesadaran yang lembut namun kuat: Hidup ini bukan milik kita lagi sepenuhnya. Kita hidup karena Kristus berkenan hadir di dalam kita. Sejak itu, cara kita memandang orang lain berubah. Kita belajar melihat sesama bukan sebagai objek, tapi sebagai pribadi yang juga dikasihi Tuhan. Mengasihi bukan lagi sekadar kewajiban, tapi respons alami dari ...