Ketika Anugerah Berubah Jadi Hak
Masih ingat cerita komedian eks Srimulat, Nunung? Selama bertahun-tahun ia membantu banyak anggota keluarganya. Pada awalnya bantuan itu diterima dengan rasa syukur. Namun seiring waktu, sesuatu yang menarik terjadi. Bantuan yang semula dipandang sebagai kebaikan perlahan berubah menjadi sesuatu yang dianggap wajar. Harapan pun tumbuh. Dan ketika suatu saat bantuan itu tidak lagi dapat diberikan, muncullah kekecewaan. Dan saat Nunung bangkrut, ia ditinggalkan oleh orang yang selama ini dibantunya.
Tentu renungan ini bukan sedang membahas Nunung ataupun keluarganya. Yang menarik justru adalah bagaimana hati manusia bekerja.
Bukankah hal seperti itu juga dapat terjadi dalam banyak relasi? Sesuatu yang semula diterima sebagai anugerah, perlahan dapat berubah menjadi sesuatu yang kita anggap sebagai hak.
Perenungan itu membawa kita melihat kehidupan rohani dari sudut yang berbeda.
Sebagian besar dari kita mulai mencari Allah karena kebutuhan. Kita datang kepada-Nya ketika merasa tidak mampu, ketika menghadapi persoalan, ketika membutuhkan pertolongan. Tidak ada yang salah dengan itu. Bahkan Alkitab penuh dengan kisah manusia yang datang kepada Allah karena mereka membutuhkan-Nya.
Masalahnya bukan pada kebutuhan.
Masalahnya muncul ketika hati berhenti bertumbuh.
Ketika doa-doa dijawab, pemeliharaan Allah terus dialami, dan berkat demi berkat diterima, hati seharusnya semakin mengenal Pribadi Allah. Namun yang sering terjadi justru sebaliknya. Tanpa kita sadari, anugerah yang terus-menerus diterima berubah menjadi sesuatu yang dianggap sewajarnya. Lalu lahirlah harapan bahwa Allah akan selalu bertindak sesuai keinginan kita. Dan ketika harapan itu tidak terpenuhi, hati mulai kecewa, bahkan mempertanyakan kasih-Nya.
Mungkin di sinilah kita perlu berhenti sejenak.
Apakah selama ini kita lebih mengenal berkat-berkat Allah daripada mengenal Allah sendiri?
Bukankah setiap berkat sesungguhnya bukan tujuan akhir? Setiap berkat adalah undangan. Undangan untuk semakin mengenal Pribadi yang memberikannya.
Karena itulah Yesus mengajarkan doa yang dimulai dengan, "Bapa kami yang di surga, dikuduskanlah nama-Mu..." sebelum mengajarkan kita berdoa, "Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya." Hati terlebih dahulu diarahkan kepada Bapa, baru kemudian kepada kebutuhan.
Mungkin pertumbuhan iman bukanlah ketika kita berhenti membawa kebutuhan kepada Allah. Pertumbuhan iman terjadi ketika, di tengah segala kebutuhan itu, hati kita perlahan bergeser dari mencari pemberian-Nya menuju semakin mengenal dan mengasihi Pribadi-Nya.
Sebab pada akhirnya, berkat terbesar bagi orang percaya bukanlah semua doa dijawab seperti yang kita inginkan.
Berkat terbesar adalah ketika, melalui setiap doa, setiap harapan, bahkan setiap realitas hidup yang tidak kita mengerti, hati kita semakin diarahkan kepada Allah, sehingga kita mengenal-Nya, mengasihi-Nya, dan tetap setia kepada-Nya.
_
RuangSunyi 13726