Setengah Hari ke Kintamani: Pergi, Hadir, Pulang
Barangkali memang bukan soal lamanya tinggal, tapi pengalaman selama perjalanan itu sendiri. Maka pagi itu, tanpa banyak menimbang lagi, aku memutuskan berangkat.
Sekitar pukul 09.30 aku keluar dari rumah. Jaket parasut tipis kupakai sekadar melindungi tangan dari sengatan matahari Denpasar yang belakangan terasa tajam. Ransel berisi laptop ikut kubawa—meski belakangan baru kusadari, kacamata baca dan mouse tertinggal. Motor yang kupakai adalah Yamaha Vixion peninggalan masa kuliah Andra di Jogja, dengan plat AB yang masih setia menempel.
Perjalanan dimulai lewat Jl. Nangka Utara. Seperti biasa, sebelum jauh aku isi BBM dan mengambil uang tunai di ATM. Tidak lama kemudian, menjelang perempatan Astasura–Antasura, arus tersendat. Sebuah truk pengangkut pasir berhenti di bahu jalan, menurunkan muatan di ruas yang sempit. Jalan yang hanya cukup untuk dua mobil bersimpangan itu langsung macet panjang. Di bawah terik, situasi itu terasa menguras tenaga lebih cepat dari yang diduga.
Begitu lolos dari Nangka, laju kembali lancar hingga memasuki Jl. Raya Sayan, Ubud—jalur yang sempit, padat, dan lembab. Di sini konsentrasi harus dijaga agar tidak terjebak terlalu lama. Ritme perjalanan mulai berubah ketika Payangan terlewati. Setelah pasar yang ramai itu, jalan terasa lebih lega. Aspal menuju Kintamani pun kini halus dan nyaman, membuat motor meluncur ringan.
Sekitar satu jam empat puluh lima menit sejak berangkat, aku tiba di kawasan Kintamani, tepat di simpang Jl. Raya Kintamani dan Jl. Penelokan. Suasananya ramai oleh kegiatan persembahyangan di Pura Dalem Batur. Meski jaraknya hanya sekitar 51 km, perjalanan terasa panjang—barangkali karena sejak awal aku memilih berkendara santai, tanpa mengejar waktu.
Dari simpang itu aku melaju pelan di Jl. Penelokan, menikmati udara yang mulai sejuk. Tujuan pertama jelas: warung Jowet. Namun setibanya di sana, warung sudah penuh. Antrian mengular oleh umat yang baru selesai bersembahyang. Aku sempat memesan, menunggu, lalu menyadari antrian masih panjang. Akhirnya aku memilih mundur—tidak memaksakan rencana.
Di sebelahnya ada Ecobike Coffee Shop. Aku masuk, memesan hot americano dan red velvet cake. Kopi arabica Kintamani datang hangat, dan pemandangan Gunung Batur terbentang tenang di depan. Laptop kubuka. Beberapa pesan WhatsApp kubalas, beberapa telepon kulakukan. Pekerjaan tetap berjalan, tapi dengan rasa yang berbeda—lebih lapang, tidak menekan.
Waktu berjalan tanpa terasa. Ketika perut kembali mengingatkan, aku berkemas dan turun sedikit menyusuri Penelokan. Sekitar satu kilometer dari situ, aku menemukan resto yang lebih sepi dengan menu yang kucari. Kali ini semuanya berjalan sederhana: pesan, duduk, makanan datang tanpa menunggu lama.
Mujair nyatnyat itu terasa sangat nikmat. Mungkin karena lapar, mungkin juga karena suasana. Udara sejuk, pemandangan Gunung Batur, dan rasa pedas hangat dari kuah nyatnyat—semuanya menyatu dalam pengalaman yang sulit dijelaskan, tapi mudah dirasakan.
Selesai makan, muncul jeda kecil: lalu apa lagi? Mau ngopi lagi rasanya berlebihan. Tidak ada lagi yang ingin dikerjakan. Dan justru di situ jawabannya—cukup.
Sekitar pukul 13.30 aku memutuskan turun kembali ke Denpasar. Tidak lama di Kintamani, tapi rasanya sudah penuh.
Perjalanan pulang kupilih lewat Tegallalang menuju Ubud. Keputusan yang belakangan terasa kurang tepat. Banyak ruas jalan rusak, membuat getaran terasa sampai ke badan. Semakin mendekati Ubud, panas kembali menyergap. Lalu lintas mulai ruwet: Jl. Andong, Cok Gede Rai, hingga Raya Teges. Macet, panas, dan bau asap kendaraan menjadi kombinasi yang harus dijalani tanpa alternatif.
Sekitar pukul 14.15 akhirnya aku tiba kembali di rumah di Denpasar, dengan tubuh berkeringat dan lelah yang terasa nyata. Perjalanan selesai, ditutup dengan istirahat siang.
Perjalanan ini sederhana—bahkan mungkin tampak biasa. Namun justru di situlah maknanya.
Kintamani menjadi ruang jeda. Tidak lama, hanya beberapa jam, tapi cukup untuk makan dengan sungguh-sungguh, duduk dengan tenang, dan melihat sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri.
Lalu hidup kembali menarik ke bawah: panas, macet, jalan rusak, dan keruwetan yang nyata.
Dan mungkin di situlah pelajarannya—bukan tinggal di tempat yang tenang, melainkan membawa sedikit ketenangan itu pulang, melewati riuhnya jalan kembali.
Kadang kita memang tidak pergi untuk melakukan sesuatu yang besar. Cukup pergi, hadir, lalu pulang. Dan anehnya, itu sudah cukup.
Denpasar 23.22 16426