Jogja yang Tak Pernah Sepenuhnya Direncanakan
Perjalanan ini sejak awal memang bukan perjalanan biasa. Bukan karena jaraknya jauh, tapi karena niatnya tidak sepenuhnya tentang tujuan. Ada sesuatu yang ingin dijalani. Sebuah laku. Sebuah jeda. Sebuah ruang untuk melihat diri sendiri lebih jernih.
Aku memutuskan berangkat dari Denpasar menuju Jogja, bukan karena harus. Hanya karena ingin mampir. Ada tarikan yang sulit dijelaskan. Jogja selalu terasa seperti sosok ibu, yang memanggil pulang ketika waktu bermain sudah selesai. Hangat, diam, tapi kuat.
Rencana awal sebenarnya cukup padat, meski hanya dalam waktu singkat. Pagi hari setibanya di Jogja, aku berniat sarapan di depot Surya nya Joni, bertemu dengan Pdt. Gunawan untuk berdiskusi mengenai satgas relawan. Lalu siang hari beralih ke rencana takziah ke Mbak Erna, ibunda almarhum Mas Angga yang baru saja berpulang dua minggu sebelumnya. Sore harinya, sudah terbayang diskusi bersama Prof. Koentjoro dan beberapa kolega, termasuk Mas Elda, besanku yang tinggal di Ponjong, Gunungkidul. Semuanya tersusun rapi, meski waktunya sempit. Seperti “thirik-thirik” kecil yang ingin kurajut dalam satu hari di Jogja.
Rencana itu terasa masuk akal. Bahkan terasa cukup aman.
Tapi perjalanan rupanya punya alur sendiri.
Bus yang seharusnya berangkat pukul 14.00 harus tertunda dan baru benar-benar berjalan pukul 20.00. Pada titik itu, rencana mulai bergeser, meski belum sepenuhnya terasa sebagai masalah. Masih ada ruang untuk menyesuaikan, pikirku saat itu.
Namun situasi berubah drastis ketika tiba di Gilimanuk.
Bus mulai antre sejak pukul 00.30. Awalnya aku masih mengira antrean akan bergerak perlahan seperti biasa. Tapi kenyataannya tidak demikian. Bus berhenti dalam waktu yang lama. Tidak bergerak. Tidak ada kepastian. Malam makin larut, dan kondisi di dalam bus mulai terasa tidak nyaman. AC yang dingin menusuk, badan yang lelah mulai terasa pegal, dan suasana menjadi semakin padat oleh rasa jenuh.
Waktu berjalan, tetapi hampir tanpa perubahan situasi.
Di tengah kondisi itu, satu per satu rasa mulai muncul dengan jelas. Rasa kesal karena keterlambatan, rasa lelah karena perjalanan yang panjang, rasa tidak nyaman karena tubuh yang lengket oleh keringat, keinginan untuk segera sampai, dan kekhawatiran bahwa semua rencana di Jogja akan berantakan.
Semua itu terasa nyata. Sangat nyata.
Di titik inilah aku mencoba sesuatu yang selama ini hanya kupahami sebagai konsep: mengenali rasa.
Ternyata benar, mengenali dan menamai rasa itu tidak sulit. Aku bisa dengan mudah menyadari, “ini lelah”, “ini kesal”, “ini ingin cepat sampai”. Tapi untuk tidak larut di dalamnya, itu jauh lebih sulit. Karena rasa itu tidak hanya ada di pikiran, tetapi hadir di seluruh tubuh dan pengalaman saat itu.
Akhirnya aku tidak mencoba melawan atau menenangkan diri secara paksa. Aku hanya membiarkan semua itu ada, sambil tetap menyadarinya. Tidak ada perubahan dramatis. Rasa tetap ada. Tapi perlahan muncul jarak yang sangat tipis, cukup untuk membuatku tidak tenggelam sepenuhnya.
Sekitar pukul 05.45, bus akhirnya mulai masuk ke kapal. Namun perjalanan belum benar-benar ringan. Pelayaran yang biasanya hanya memakan waktu sekitar 45 menit, kali ini berlangsung hampir dua jam sebelum akhirnya kapal merapat di Ketapang sekitar pukul 07.30 WIB.
Pada titik itu, menjadi sangat jelas bahwa seluruh rencana di Jogja tidak mungkin lagi dijalankan seperti semula.
Rencana pagi sudah lewat. Siang pun bergeser. Sore yang tadinya penuh agenda kini tidak lagi memiliki bentuk yang pasti.
Namun justru di situ ada perubahan cara melihat.
Aku mulai menyadari bahwa yang hilang sebenarnya hanyalah rencana, bukan keseluruhan perjalanan.
Aku tetap sampai di Jogja.
Memang tidak semua yang direncanakan bisa terjadi. Sarapan di Depot Surya milik Joni, sohib SMA, pertemuan dengan Pdt. Gunawan, rencana takziah, dan diskusi panjang bersama Prof. Koentjoro dan kolega tidak semuanya bisa terlaksana sesuai bayangan awal. Tapi perjalanan itu tetap memberikan ruang untuk pertemuan-pertemuan yang mungkin tidak panjang, namun terasa cukup. Aku masih sempat bertemu Agung, teman SMA, Mas Céng teman kampung, Tito keponakan, dan Ning, adik ragil.
Pertemuan yang singkat, tanpa banyak rencana, tetapi justru terasa utuh.
Tidak berlebihan. Tidak kurang.
Seolah ada sesuatu yang berbisik pelan, bahwa yang terjadi saat itu sudah cukup.
Malam harinya, aku naik KA Batavia menuju Jakarta. Kereta berjalan cepat meninggalkan Jogja yang hanya sempat kusinggahi sejenak. Namun tidak ada rasa kehilangan yang berlebihan.
Karena yang kubawa bukan sekadar kenangan tentang kota itu, melainkan pengalaman batin yang terjadi sepanjang perjalanan.
Aku belajar bahwa rencana boleh dibuat, tetapi tidak harus selalu terjadi. Bahwa keinginan boleh ada, tetapi tidak harus terpenuhi seluruhnya. Dan bahwa dalam setiap perubahan, selalu ada kemungkinan untuk tetap menemukan makna.
Perjalanan ini bukan sekadar berpindah dari Denpasar ke Jogja lalu ke Jakarta.
Ini adalah perjalanan untuk belajar lebih lerem, lebih tenang, dan sedikit demi sedikit berdamai dengan apa yang tidak bisa dikendalikan.
Dan mungkin, pada akhirnya, itu yang membuat perjalanan ini menjadi bermakna.
Tidak terbawa oleh rasa, tetapi tetap hadir sepenuhnya di dalamnya.
KA Batavia. Ekonomi 3-11A 1 April 2026