Saksi Bisu di Halaman Rumah Tua
Di halaman rumah tua kami di Yogyakarta, berdiri sebuah pohon nangka besar di sebelah dapur. Batangnya kokoh, dahannya lebar, dan daunnya rimbun, menciptakan keteduhan yang menyejukkan bahkan di siang hari yang terik. Di bawah pohon inilah banyak kisah masa kecilku dan saudara-saudaraku terukir. Sejak aku masih kecil, sekitar enam tahun, mbak Toet, mbak Nuk, dan Paijem, anak Mbok Parto, pembantu keluarga kami sering menggelar tikar di bawahnya. Pohon nangka ini bukan hanya sekadar peneduh, tapi juga tempat berkumpul, tempat melepas lelah, dan tempat berbagi cerita. Di sana, Paijem dengan tekun menyisir rambut mbak Toet dengan suri, sisir lembut yang terbuat dari tanduk kerbau, mencari kutu yang saat itu masih lazim bagi pemilik rambut panjang. Sambil tiduran di tikar, suara radio transistor dua band AM dan MW mengalun lembut, memutar lagu-lagu lawas atau lawakan khas Basiyo yang selalu berhasil membuat kami tertawa. Namun, ada satu kejadian yang selalu kami waspadai saat du...