Kepergok Diri Sendiri
Pagi ini aku berjalan seperti biasa. Menyusuri jalanan, langkah demi langkah, ditemani musik yang mengalun pelan di telingaku melalui headset. Tapi yang lebih hidup justru di dalam: pikiran, rasa, raos, semuanya bergerak, muncul silih berganti.
Aku sedang berlatih melihat.
Melihat bukan hanya yang di luar, orang-orang, kendaraan, hal-hal kecil di sekitar, sampah di pinggir jalan yang masih bertebaran, kabel yang bergelantungan di setiap jalan bak sarang laba-laba, tapi juga yang di dalam. Percakapan batin, bayangan-bayangan, reaksi-reaksi halus yang sering kali luput.
Lalu di tengah jalan pagi itu, aku menyadari sesuatu.
Ternyata di dalam diriku ada kecenderungan yang halus, keinginan untuk diakui, untuk dianggap, untuk menjadi “sesuatu”. Ia tidak selalu muncul terang-terangan. Kadang ia berbalut niat baik. Kadang ia bersembunyi di balik hal-hal yang terlihat benar.
Dan pagi ini, aku kepergok.
Bukan oleh orang lain.
Tapi oleh diriku sendiri.
Aku berhenti sejenak di dalam hati. Melihat itu semua apa adanya.
“Iya… ini ada dalam diriku.”
Tidak, aku bantah.
Tidak juga aku benarkan.
Aku hanya melihat… dan mengakui.
Di situ aku juga menyadari ada rasa “nikmat” yang menyertainya. Rasa ingin dianggap berarti. Rasa ingin diakui keberadaannya. Dan mungkin, lebih dalam lagi, ada keinginan untuk merasa cukup.
Manusiawi.
Tapi aku tidak ingin berhenti di situ.
Pelan-pelan aku mengembalikan arah hatiku.
Bukan tentang bagaimana aku terlihat. Bukan tentang bagaimana aku dikenang.
Tapi tentang apa yang sungguh baik… dan siapa yang seharusnya dimuliakan.
Aku sadar, aku tidak ingin hidup untuk memberi makan egoku. Aku tidak ingin kebaikan yang kulakukan menjadi panggung bagi diriku sendiri.
Kalau ada sesuatu yang baik terjadi, biarlah itu sungguh menjadi baik, bukan karena aku ingin dilihat, tapi karena memang itu yang benar.
Kalau ada yang harus terlihat, biarlah bukan aku.
Kalau ada yang dikenang, biarlah bukan namaku.
Cukup Tuhan yang dimuliakan.
Dan di titik itu, aku tidak merasa kehilangan. Justru terasa lebih ringan.
Langkah kakiku kembali terasa sederhana.
Seperti pagi ini, saat aku berhenti sejenak di "Tan Panama" Coffee Shop untuk menikmati secangkir kopi hitam dan sepotong burnt cheesecake sambil merekam diskusiku dengan diriku sendiri dalam sebuah refleksi.
Tidak ada yang perlu dibuktikan.
Tidak ada yang perlu ditambahkan.
Hari ini aku hanya belajar satu hal sederhana: Melihat, Mengenali, Mengakui, lalu Mengembalikan arah.
Mungkin… itu sudah cukup.
Dan kucukupkan pagi ini dengan sebuah ayat dari 1 Korintus 10:31: “Jika engkau makan atau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.”
Denpasar Utara 25326