Bukan Bebas Luka, Tapi Tidak Ditinggalkan
1 Yohanes 4:19
Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita.
Ayat ini sering terasa mudah diamini, selama hidup sedang baik-baik saja. Tapi begitu hati terluka, hidup terasa tidak adil, ayat ini bisa terdengar jauh. Seolah-olah tidak nyambung dengan realita yang dihadapi.
Mari kita pikirkan, mungkin masalahnya bukan pada ayatnya, tapi pada cara kita memahami kasih.
Kita terbiasa mengartikan kasih sebagai kenyamanan, kebahagiaan, keterpenuhan. Selama itu ada, kita merasa dikasihi. Tapi ketika semua itu hilang, kita mulai bertanya: di mana kasih Allah?
Ayat ini tidak sedang berbicara tentang perasaan enak. Kasih Allah bukan terutama soal membuat hidup kita bebas dari penderitaan.
Kasih Allah adalah penyertaan. Ia tidak selalu mencegah luka, tapi Ia tidak meninggalkan kita di dalam luka itu.
Dan ayat ini juga bukan perintah. Bukan “ayo, tetaplah mengasihi” seolah kita harus pura-pura kuat.
Ini pernyataan. Bahwa ketika seseorang menyadari --- sungguh-sungguh menyadari --- bahwa ia tidak ditinggalkan, ada yang menyertai, ada yang setia. Maka hidupnya perlahan tetap bergerak ke arah kasih.
Bukan karena dipaksa. Bukan karena mampu. Tapi karena kita tidak sendirian.
Jadi “kita mengasihi” bukan berarti kita selalu baik-baik saja. Tapi kita tidak membiarkan kepahitan mengubah arah hidup kita.
Karena ada satu keyakinan yang dipegang: Aku ini sudah lebih dulu dikasihi, bukan dengan hidup yang selalu nyaman, tapi dengan penyertaan yang tidak pernah pergi.
Denpasar Utara 24326