Kramadangsa yang Disalibkan
Pagi ini ada satu kesadaran sederhana: tidak selalu hidup dijalani dengan sadar. Banyak hal mengalir begitu saja—rasa muncul, reaksi terjadi, dan kramadangsa, “aku” yang melekat pada kepentingan dan pertahanan diri, diam-diam mengambil alih. Sepotong lagu yang terdengar di perjalanan—“Aku tak mengerti apa yang kurasa…”, sepotong lirik dari lagu "Kangen" Yang dinyanyikan Once Mekel, seakan menegaskan hal itu: rasa seringkali sudah bergerak, bahkan sebelum benar-benar dipahami.
Kramadangsa tidak selalu salah. Ia hadir untuk bertahan. Namun ketika ia menjadi pusat, rasa mudah menguasai—hidup terasa tegang, penuh dorongan untuk menguasai, mempertahankan, dan memenangkan.
Karena itu, perlu belajar berhenti sejenak—melihat, menyadari, dan mengenali rasa tanpa harus langsung mengikutinya. Dari sini mulai tampak bahwa tidak semua rasa harus dituruti, dan tidak semua reaksi perlu diwujudkan.
Namun kesadaran akan rasa saja belum cukup. Dalam Kristus, langkah ini tidak berhenti pada kemampuan menahan diri, melainkan bergerak lebih jauh: menuju penyerahan.
“Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.” (Lukas 9:23)
Penolakan terhadap dorongan kramadangsa bukan sekadar latihan batin, tetapi bagian dari jalan mengikut Kristus—jalan yang setiap hari mengajak untuk melepaskan pusat diri, termasuk rasa yang ingin menguasai.
Dan dalam proses itu, perlahan menjadi jelas: ini bukan hanya soal mengatur rasa, melainkan tentang perubahan pusat hidup itu sendiri.
“Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.” (Galatia 2:20)
Di sinilah pergeseran itu terjadi.
Bukan lagi “aku” yang dikuasai rasa,
melainkan hidup yang memberi ruang bagi Kristus.
Kramadangsa tidak hilang, tetapi tidak lagi menjadi penguasa.
Ia menjadi alat, bukan pusat.
Mengikut Kristus bukanlah jalan yang selalu mulus. Tidak ada janji bahwa segala sesuatu akan menjadi mudah atau tanpa pergumulan. Namun di dalam setiap langkah—termasuk saat harus menyangkal diri dan memikul salib—ada satu kepastian yang tetap.
“Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku…” (Mazmur 23:4)
Bukan karena rasa menjadi hilang,
tetapi karena tidak lagi diperintah olehnya.
Dan mungkin, di situlah damai itu bertumbuh—
pelan, dalam, dan setia.