Tuhan, Ajar Aku Berdanza
"Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu." - Amsal 3:5-6
Dalam sebuah perjalanan, saya pernah menyusun hampir seluruh agenda dengan sangat rinci. Jam berapa harus berangkat, kapan harus tiba, apa yang harus dilakukan, bahkan berapa lama waktu yang tersedia di setiap tempat. Namun seperti sering terjadi dalam hidup, tidak semua berjalan sesuai rencana. Ada jadwal yang bergeser, ada agenda yang berubah, dan ada situasi yang sama sekali tidak saya perhitungkan sebelumnya.
Yang menarik, sumber kegelisahan saya ternyata bukan perubahan perubahan itu. Kegelisahan justru muncul karena saya terus berusaha mempertahankan agar segala sesuatu tetap berjalan sesuai rancangan semula. Sesuai kehendak dan pikiran saya.
Bukankah kita sering seperti itu?
Kita merencanakan banyak hal. Itu tidak salah. Tuhan juga mengaruniakan akal budi agar kita dapat mempersiapkan diri dengan baik. Namun tanpa sadar, rencana yang semula hanya alat bantu perlahan berubah menjadi sesuatu yang harus terjadi. Ketika kenyataan berjalan berbeda, kita mulai kecewa. Bahkan dalam doa, kita kadang tidak lagi memohon, melainkan diam-diam berharap Tuhan mengikuti skenario yang sudah kita susun.
Subuh ini sebuah kalimat sederhana melintas dalam benak saya:
"Tuhan, ajar aku berdanza."
Dalam sebuah tarian, yang terpenting bukanlah seberapa kuat kaki melangkah, melainkan seberapa peka kita mengikuti irama dan tuntunan pasangan. Mungkin itulah yang sering terlupakan dalam perjalanan iman. Bukan karena kita tidak percaya kepada Tuhan, melainkan karena kita masih ingin memegang kendali. Kita masih ingin menentukan arah, waktu, dan langkah menurut rancangan kita sendiri.
Padahal iman bukanlah mengajak Tuhan mengikuti tarian kita. Iman adalah kesediaan untuk mengikuti tarian-Nya.
Kadang langkah-Nya lebih lambat dari yang kita inginkan. Kadang berbelok ke arah yang tidak kita rencanakan. Kadang bahkan mengajak kita berhenti sejenak ketika kita ingin segera berlari. Namun justru di sanalah kita belajar percaya dan berserah.
Hari ini, mungkin doa yang kita perlukan bukanlah agar Tuhan segera mengubah keadaan sesuai keinginan kita.
Mungkin doa yang lebih kita perlukan adalah:
"Tuhan, ajar aku berdanza. Ajar aku mengikuti irama-Mu, bukan memaksakan iramaku sendiri."
Naren's Home 5-6-26:02.50