Dari Kebutuhan Menuju Pribadi Allah
Sejak lahir, manusia hidup dengan berbagai kebutuhan. Ketika lapar, kita mencari makanan. Ketika haus, kita mencari minuman. Ketika merasa tidak aman, kita mencari perlindungan. Ketika terluka, kita mencari pemulihan.
Dalam psikologi dikenal sebuah gagasan yang disebut pleasure principle, yaitu kecenderungan manusia untuk mencari apa yang menyenangkan dan menghindari apa yang menimbulkan kesulitan atau penderitaan. Semakin direnungkan, prinsip ini ternyata tidak hanya tampak dalam kehidupan sehari-hari, tetapi juga dalam kehidupan rohani.
Coba perhatikan doa-doa kita.
Sebagian besar berisi ucapan syukur karena sesuatu telah diterima, atau permohonan agar Tuhan memenuhi kebutuhan yang sedang dihadapi. Kita bersyukur ketika sehat, memohon ketika sakit. Kita bersukacita ketika jalan hidup terasa lancar, lalu datang kepada Tuhan ketika menghadapi jalan buntu. Tidak ada yang salah dengan semua itu. Justru itulah wajah manusia yang sadar bahwa dirinya membutuhkan pertolongan.
Namun, di balik kenyataan itu, muncul sebuah pertanyaan yang patut direnungkan.
Apakah relasi kita dengan Tuhan berhenti pada pemenuhan kebutuhan?
Tanpa disadari, kehidupan rohani pun dapat berpusat pada diri sendiri. Kita lebih sibuk memikirkan apa yang kita butuhkan daripada mengenal pribadi yang kita datangi. Tuhan perlahan berubah menjadi tujuan untuk memenuhi harapan-harapan kita, sementara kita sendiri belum sungguh-sungguh rindu mengenal siapa Dia.
Padahal mungkin Tuhan sedang mengundang kita melangkah lebih jauh.
Bukan meninggalkan kebutuhan kita, karena selama hidup kita tetap membutuhkannya. Bukan pula berhenti membawa pergumulan kepada Tuhan. Sebaliknya, Tuhan menghendaki agar hubungan itu bertumbuh. Dari hubungan yang semula didorong oleh kebutuhan, perlahan berkembang menjadi kerinduan untuk mengenal Pribadi-Nya.
Perjalanan ini tidak mudah.
Semakin seseorang berusaha mengenal Allah melalui Yesus Kristus, semakin ia menyadari bahwa Pribadi Allah tidak mungkin dipahami sepenuhnya oleh akal manusia. Apa yang dapat kita pahami mungkin hanyalah riak-riak kecil di permukaan, sementara kedalaman kasih, hikmat, dan kekudusan-Nya tetap tak terselami.
Anehnya, justru kesadaran akan keterbatasan itu tidak menjauhkan kita dari Allah. Sebaliknya, kesadaran itu menumbuhkan kerendahan hati dan kerinduan untuk terus mengenal-Nya. Mengasihi Allah tidak menunggu sampai kita memahami-Nya secara sempurna, sebab tidak seorang pun akan pernah mampu mencapai pemahaman yang utuh tentang Dia.
Dalam perenungan ini muncul pula sebuah pertanyaan lain.
Adakah kasih manusia yang benar-benar tanpa pamrih?
Semua kasih apa pun kepada manusia hampir selalu disertai kebutuhan yang ikut hadir. Kita bersukacita ketika orang yang kita kasihi berbahagia. Kita merasa damai ketika dapat menolong. Bahkan ketika berkorban, ada kepuasan batin yang kita rasakan. Hal itu tidak membuat kasih manusia menjadi palsu, tetapi menunjukkan bahwa kita tetaplah manusia yang memiliki kebutuhan.
Di sinilah kasih Allah menjadi begitu berbeda.
Allah mengasihi bukan karena Ia membutuhkan manusia. Kasih-Nya tidak lahir dari kekurangan yang harus dipenuhi. Ia mengasihi karena kasih adalah Pribadi-Nya. Kasih Allah mengalir bukan untuk melengkapi diri-Nya, melainkan untuk memberikan diri-Nya.
Mungkin inilah arah pertumbuhan yang Tuhan rindukan bagi setiap orang percaya. Bukan supaya kita berhenti datang kepada-Nya dengan segala kebutuhan kita, melainkan supaya, sedikit demi sedikit, pusat hati kita bergeser. Dari hanya mencari apa yang dapat diberikan Allah, menuju kerinduan untuk mengenal Allah sendiri.
Perjalanan itu mungkin tidak pernah selesai selama kita masih hidup. Namun, setiap langkah kecil yang membawa kita semakin mengenal Pribadi-Nya adalah anugerah.
Sebab pada akhirnya, tujuan hidup orang percaya bukan sekadar menerima berkat dari Allah, melainkan mengenal Dia, mengasihi Dia, dan menikmati persekutuan dengan-Nya selama-lamanya.
RuangSunyi 8Juli26 22.12