Perlombaan Itu Ternyata di Dalam Diri
Pagi ini aku mencoba sesuatu yang berbeda. Biasanya Sabtu pagi aku isi dengan jalan di Sanur, tapi kali ini aku sempatkan ikut Persekutuan Doa Pagi di GKI Denpasar. Sesederhana itu keputusannya, tapi ternyata yang terjadi di dalam diriku tidak sesederhana itu.
Datang dengan kostum olahraga, jelas aku langsung “terasa beda”. Tidak sepenuhnya salah, tapi juga tidak sepenuhnya pas. Beberapa peserta senior menyapa, bertanya mau ada kegiatan apa. Aku sempat menjawab bercanda, hanya numpang berteduh karena hujan pak. Tapi kemudian aku luruskanjawaban itu menjadi -- saya memang datang untuk ikut doa pagi pak.
Responnya beragam. Ada yang kaget, ada yang ramah, ada yang seperti menilai dalam diam. Dan aku… ya seperti biasa, kalau tidak ditanya ya tidak banyak bicara. Aku lebih memilih mengamati. Tapi justru di situ rasa kagok itu muncul jelas. Aku tidak tahu ritme, tidak hafal lagu, tidak paham respon liturgis. Bahkan untuk hal sederhana seperti kapan harus menjawab atau bernyanyi pun aku harus “mencontoh” dari sebelah.
Rasanya seperti orang yang masuk lintasan tanpa tahu aturan mainnya.
Bagian yang paling terasa adalah saat doa syafaat. Banyak pokok doa disebutkan, ada doa untuk pemerintah, gereja, persekutuan gereja dan umat di Bali, jemaat yang sakit, yang berduka. Aku bingung. Harus memilih yang mana? Harus berdoa bagaimana? Bahkan aku sempat mengira doa akan dipanjatkan bergiliran, ternyata semua dilakukan dalam hati, dalam keheningan.
Di situ aku berhenti mencoba “menyesuaikan diri”.
Aku memilih jujur dalam berdoa pada Tuhan.
“Tuhan, Engkau Maha Tahu apa yang hendak aku doakan. Aku tidak pandai berkata-kata. Tapi Engkau melihat hati dan pikiranku. Kabulkanlah doa kami.”
Sederhana.
Sangat sederhana.
Bahkan mungkin terlalu sederhana jika dibandingkan dengan yang lain. Tapi itu yang paling jujur yang bisa aku berikan saat itu.
Dari seluruh pengalaman itu, ada dua hal yang mengendap dalam diriku.
Pertama, pergumulan untuk tidak sibuk memikirkan penilaian orang.
- Apakah aku terlihat tidak rohani?
- Apakah aku terlihat tidak bisa berdoa?
- Apakah sebagai penatua aku tampak “kurang”?
Hal-hal seperti ini ternyata tetap muncul, walaupun aku berusaha menepisnya. Dan di situ aku sadar bahwa untuk tidak peduli pun tetap butuh perjuangan.
Kedua, yang ternyata lebih dalam: dorongan untuk menilai orang lain. Ini lebih halus, lebih cepat muncul, dan lebih sulit ditangkap. Saat berada di lingkungan baru, saat melihat orang lain dengan kebiasaan dan cara yang berbeda, ada kecenderungan untuk mulai mengukur, membandingkan, bahkan menghakimi dalam hati.
Dan di titik itu aku tersadar ini bukan lagi soal orang lain.
Ini soal aku.
Ketika kemudian firman tentang “mengakhiri pertandingan yang baik” dari 2 Timotius 4:7 dibawakan, semuanya seperti bertemu di satu titik. Analogi perlombaan, bahkan sampai ke gambaran seperti arema MotoGP, awalnya terdengar seperti bicara tentang kompetisi. Tentang lawan. Tentang siapa yang lebih cepat atau lebih baik.
Tapi dalam refleksiku, lawannya bukan orang lain.
Lawannya adalah diriku sendiri.
Perlombaan iman yang aku jalani hari ini bukan tentang terlihat rohani atau tidak. Bukan tentang bisa mengikuti ritme atau tidak. Tapi tentang apakah aku bisa:
- Tidak dikuasai oleh pikiran tentang penilaian orang
- Tidak terbawa oleh dorongan untuk menilai orang lain
Dan kalau ditarik lebih dalam lagi, semuanya bermuara pada satu hal: *EGO*.
- Ego yang ingin terlihat cukup.
- Ego yang ingin merasa benar.
- Ego yang ingin aman dari penilaian, tapi sekaligus cepat menilai.
Di situlah perlombaan itu terjadi.
Bukan di luar, tapi di dalam.
Bukan melawan orang lain, tapi menaklukkan diri sendiri.
Dan mungkin, “pertandingan yang baik” itu bukan tentang seberapa sempurna aku menjalani semuanya, tapi apakah aku tetap jujur, tetap sadar, dan tetap berjalan di arah yang benar.
Pagi ini mungkin terlihat sederhana. Bahkan sedikit canggung.
Tapi di dalamnya, aku merasa sedang benar-benar berlomba, bak dalam circuit balap.