Tidak Ada yang Mustahil?



Seorang anak kecil melihat ayahnya sedang memotong buah dengan pisau yang sangat tajam. Melihat itu si anak berkata "Yah, aku mau pinjam pisaunya, buat motong buah".

Ayahnya tersenyum, tetapi menggeleng pelan. Anak itu merengek. Menurutnya, ayahnya pelit. Padahal baginya, memberikan pisau itu bukan perkara sulit.

Yang tidak dipahami sang anak adalah: ayahnya bukan tidak mampu memberikan, tetapi tahu bahwa anaknya belum siap menerimanya.

Anak itu menangis karena tidak diberi pisau. Ia mengira ayahnya tidak mengasihi.

Bukankah kita sering seperti anak itu?

Kita pun sering merengek, bahkan menangis karena Tuhan tidak memberikan apa yang kita minta. Kita lupa bahwa mungkin kita sedang memegang tangan Bapa yang sedang menjauhkan kita dari sesuatu yang belum sanggup kita tanggung.

"Tidak ada yang mustahil bagi Allah" bukan berarti Allah akan memenuhi semua keinginan kita. 

Justru karena tidak ada yang mustahil bagi-Nya, kita berani berserah bahwa apa pun yang Ia berikan, atau tidak berikan adalah bagian dari pemeliharaan-Nya.

RuangSunyi 15Juni26

Popular posts from this blog

Otak, Iman, dan Tubuh Kristus: Dari Memori Negatif Menuju Neuroplasticity Spiritual

Jogja yang Tak Pernah Sepenuhnya Direncanakan

Setengah Hari ke Kintamani: Pergi, Hadir, Pulang