Dibawa Santai Saja, Pak...
Sepotong kalimat pendek itu hingga kini masih melekat dan saya jadikan rujukan untuk menata pikiran dan perasaan manakala sedang menghadapi keruwetan tertentu. Jujur, hanya dengan membangkitkan memori terhadap kalimat pendek itu, sambil membayangkan intonasi dan dialek dari sumber kalimat itu berasal, sejauh ini sudah sangat membantu. Setidaknya, saya tidak terbawa pada kebiasaan OT alias overthinking dan bisa melihat situasi secara lebih realistis. Tentu saja, dengan membandingkannya dengan banyaknya persoalan dan keruwetan lain dalam kehidupan kita, baik di lingkup mikro maupun makro kosmik. Memang, awal mula munculnya respons berupa kalimat pendek yang manjur itu berawal dari sepotong chat perihal tugas pelayanan di gereja. Ya, singkatnya, curhat lagi mumet, gitulah. Dan, ya, hanya sepotong kalimat pendek itulah bentuk respons yang saya terima. Barangkali, awalnya saya berharap ditanya lebih detail tentang masalah yang sedang dihadapi, sehingga ada ruang yang lebih lebar untuk curha...