Dibawa Santai Saja, Pak...

Sepotong kalimat pendek itu hingga kini masih melekat dan saya jadikan rujukan untuk menata pikiran dan perasaan manakala sedang menghadapi keruwetan tertentu. Jujur, hanya dengan membangkitkan memori terhadap kalimat pendek itu, sambil membayangkan intonasi dan dialek dari sumber kalimat itu berasal, sejauh ini sudah sangat membantu. Setidaknya, saya tidak terbawa pada kebiasaan OT alias overthinking dan bisa melihat situasi secara lebih realistis. Tentu saja, dengan membandingkannya dengan banyaknya persoalan dan keruwetan lain dalam kehidupan kita, baik di lingkup mikro maupun makro kosmik.

Memang, awal mula munculnya respons berupa kalimat pendek yang manjur itu berawal dari sepotong chat perihal tugas pelayanan di gereja. Ya, singkatnya, curhat lagi mumet, gitulah. Dan, ya, hanya sepotong kalimat pendek itulah bentuk respons yang saya terima.

Barangkali, awalnya saya berharap ditanya lebih detail tentang masalah yang sedang dihadapi, sehingga ada ruang yang lebih lebar untuk curhat. Kaget dan kagok. Jelas, itu respons balik dari perasaan saya. Tapi, hanya sesaat. Saya mencoba menata kembali pikiran: apa pentingnya membiarkan perasaan lebih mengemuka ketimbang logika?

Maka, dengan cepat saya mencoba menalar respons itu. Dan, ternyata terasa logis juga. Karena selanjutnya, logika kita segera menimpali, “Iya, ya... buat apa juga dibawa mumet?”

Mumet ini belum seberapa dibandingkan dengan mumetnya saudara-saudara kita yang bergulat di Palangkaraya, yang terpaksa menghirup asap kebakaran hutan setiap hari. Sumpek, sesak. Atau sebagian besar semeton Bali yang harus mengantre berjam-jam demi mendapatkan tiga sampai empat liter Pertalite untuk sepeda motor yang mereka gunakan berangkat dan pulang kerja. Sementara itu, penguasa cuma bisa membalas dengan hentakan, “Diam kamu!”

Mumetnya para petugas SPBU yang harus melayani selama 24 jam, tanpa istirahat, dan mungkin tanpa jeda untuk makan. Mumet, lelah, frustrasi.

Sementara itu, mumet yang satu ini tak seberapa. Masih layak untuk direspons dengan kalimat, “Dibawa santai saja, Pak.”

Dan, sekarang, setiap kali menghadapi keruwetan lain dalam keseharian, saya mencoba menghadapinya dengan mengingat kalimat pendek itu: “Dibawa santai saja, Pak.”

Mau keliru membawakan doa atau melakukan detail pelayanan lainbyang keliru, atau mumet karena hal yang lain, kalimat itu menjadi obat yang manjur. Tentu saja, ada next step-nya. Melihat magnitude masalah secara rasional, lalu mencarikan solusi yang realistis dan logis pula untuk self-improvement.

Popular posts from this blog

Otak, Iman, dan Tubuh Kristus: Dari Memori Negatif Menuju Neuroplasticity Spiritual

Setengah Hari ke Kintamani: Pergi, Hadir, Pulang

Jogja yang Tak Pernah Sepenuhnya Direncanakan