Memoar Seorang Akung - Dari Telepon 4246 sampai Smartphone

Malam ini aku menonton sebuah film lama.
Judulnya The Contractor. Entah sudah film produksi tahun berapa. Yang menarik perhatianku justru bukan jalan ceritanya. Di salah satu adegan, seorang tokohnya menerima telepon menggunakan sebuah HP jadul. Belum smartphone. Layarnya kecil, tombolnya banyak, bentuknya masih tebal.

Adegan itu hanya lewat beberapa detik.
Tetapi entah kenapa, pikiranku langsung melompat hampir tiga puluh tahun ke belakang.
"Lho... HP pertamaku dulu juga seperti itu." Nokia 5110.

Begitu nama itu muncul di kepalaku, seperti ada pintu tua yang perlahan terbuka. Satu demi satu kenangan keluar tanpa harus dipanggil.

Lucunya, aku justru termasuk orang yang paling akhir memiliki HP dibanding teman-teman sekantor. Waktu itu hampir semua orang mulai membawa HP ke mana-mana. Rasanya keren. Ada sarung kulit yang dipasang di gesper celana. Kalau berjalan, HP itu menggantung di pinggang. Menjadi gaya hidup baru.

Aku malah berpikir sebaliknya.
"Untuk apa ya? Bukankah nanti orang bisa menghubungiku kapan saja? Rasanya kok malah tidak bebas." Aku merasa lebih merdeka tanpa HP.

Kalau sedang di rumah ya orang menelepon ke telepon rumah. Kalau sedang di luar ya memang tidak bisa dihubungi. Bagiku itu biasa saja.

Sampai suatu sore, seorang kolega di kantorku, sengaja bertandang ke rumah di Komplek Polri Ulujami, dan menyampaikan sebuah bungkusan sambil berujar  "Mas, ini buat Mas."
Di tangannya ada sebuah kotak Nokia 5110 yang masih tersegel plastik.

Aku tidak tahu apa yang ada di pikirannya waktu itu. Mungkin dia kasihan melihat koleganya belum juga punya HP, sementara hampir semua teman kantor sudah memilikinya.

Aku membuka kotaknya perlahan.
Masih tercium aroma khas barang elektronik baru.
Baterainya belum dipasang.
SIM card masih terbungkus rapi.
Aku membolik-balik buku petunjuk, lalu mulai mencoba memasang baterai, memasukkan kartu SIM, kemudian menekan tombol power.

Saat layar kecil itu menyala, aku masih ingat betul perasaanku.
Ada rasa kagum.
Ada rasa senang.
Ada juga rasa deg-degan.
Seolah-olah aku sedang memegang sebuah benda yang datang dari masa depan.

Lalu muncul pertanyaan yang sekarang terdengar lucu. "Sekarang... aku mau menelepon siapa?" Kontakku masih kosong.
Akhirnya aku menelepon seorang teman sekantor yang memang sudah lebih dulu memakai HP.

Begitu dia mengangkat, dia langsung tertawa.
"Lho... sudah punya HP?"

Malam itu dia mengajariku lewat telepon. Cara menyimpan nomor. Cara membuka daftar kontak. Cara mengirim SMS. Cara membaca pesan yang masuk.

Aku begitu asyik sampai tidak terasa malam sudah larut.

Lalu aku teringat kolega yang sorenya mengantarkan pemberian HP Nokia itu.
Aku mencoba mengirim SMS pertama kepadanya. Tidak lama kemudian HP itu berdering. Dia tidak membalas lewat SMS. Dia langsung menelepon. Begitu kudengar suaranya memanggil, "Halo Mas...hehehe", kami langsung tertawa berdua.

Entah kenapa, kenangan itu masih terasa hangat sampai sekarang.
Keesokan harinya aku pergi ke Blok M.
Dan tanpa banyak berpikir, aku membeli sarung kulit untuk Nokia 5110 itu.
Kupasang di gesper celana.

Lucu juga kalau mengingatnya sekarang.
Orang yang semula berkata tidak ingin punya HP karena merasa akan kehilangan kebebasan, ternyata sehari kemudian sudah ikut bergaya seperti kebanyakan orang. Aku diam-diam tersenyum sendiri.Ternyata aku juga bisa berubah.

Tetapi sebenarnya, perjalanan itu sudah dimulai jauh sebelum Nokia 5110 hadir.

Aku tiba-tiba teringat masa SMP di Jogja.
Kakakku yang tertua Mas Daryanto kala itu sudah bekerja dan memiliki perusahaan kecil. Kantornya masih di rumah.

Di ruang kantornya berdiri sebuah telepon. Nomornya hanya empat angka. 4246.
Aneh ya. Sudah puluhan tahun berlalu, tetapi empat angka itu masih kuingat dengan jelas.

Waktu itu memiliki telepon rumah sudah termasuk kemewahan. Kalau telepon berdering, satu rumah mendengarnya. Kalau ada keluarga yang ingin menerima telepon tetapi belum punya sambungan sendiri, kadang mereka menitip nomor ke rumah yang punya telepon.

Di luar rumah, kami mengandalkan telepon umum. Mula-mula telepon koin. Kemudian berganti telepon kartu.

Aku masih ingat membeli kartu telepon bergambar. Memasukkannya ke mesin, lalu melihat jumlah unitnya berkurang selama berbicara. Kalau ingin lebih hemat, kami sering menunggu malam. Karena tarif telepon malam lebih murah. Begitulah kebiasaan orang waktu itu.

Kemudian hadir pager.
Lalu HP.
SMS.
Internet.
Smartphone.
Dan sekarang...Aku duduk di ruang yang tenang, memegang sebuah telepon yang kekuatannya mungkin jutaan kali lebih besar daripada Nokia 5110 dulu. 

Kalau saja seseorang mengatakan semua ini kepadaku ketika pertama kali membuka kotak Nokia 5110, mungkin aku akan menganggapnya cerita fiksi ilmiah.

Malam ini aku menyadari sesuatu. Sebenarnya yang membuatku tersenyum bukanlah Nokia 5110. Bukan pula telepon rumah bernomor 4246. Bukan telepon kartu, pager, ataupun smartphone.

Yang membuatku tersenyum adalah karena aku pernah hidup di setiap zaman itu. Aku pernah merasakan bagaimana rasanya menunggu surat. Pernah hafal nomor telepon hanya empat digit. Pernah antre di telepon umum. Pernah gembira menerima SMS pertama. Pernah kagum ketika internet mulai masuk ke rumah. Dan kini aku menyaksikan AI menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Ternyata setiap zaman selalu menghadirkan dunia baru. Dulu aku sempat takut memasukinya karena merasa akan kehilangan kebebasan. Namun waktu mengajariku bahwa teknologi hanyalah alat.

Yang menentukan apakah kita menjadi lebih terikat atau justru lebih bijaksana bukanlah alat itu sendiri, melainkan hati yang memegangnya.

Mungkin itulah hikmat yang baru kusadari di usia enam puluh tahun.
Zaman akan terus berubah.
Teknologi akan terus berganti.

Tetapi rasa ingin tahu, tawa bersama sahabat, dan syukur karena diberi kesempatan menyaksikan semua perubahan itu... semoga jangan pernah hilang. Karena pada akhirnya, bukan teknologinya yang paling berharga. Melainkan perjalanan hidup yang diam-diam diukir melalui setiap perubahan zaman itu.

RuangSunyi 30Juni26

Popular posts from this blog

Otak, Iman, dan Tubuh Kristus: Dari Memori Negatif Menuju Neuroplasticity Spiritual

Jogja yang Tak Pernah Sepenuhnya Direncanakan

Setengah Hari ke Kintamani: Pergi, Hadir, Pulang