Dari Ancaman Menuju Allah

Mengapa manusia begitu menyukai cerita horor? Mengapa kisah tentang hantu, roh jahat, atau kerasukan selalu menarik perhatian? Mungkin jawabannya lebih dalam daripada sekadar mencari hiburan.

Sejak awal kehidupan, setiap makhluk hidup memiliki satu dorongan yang sama, yaitu mempertahankan eksistensinya. Burung menghindari pemangsa, rusa berlari ketika mencium bau harimau, bahkan tumbuhan pun memiliki cara melindungi dirinya. Demikian pula manusia. Otak kita diciptakan begitu peka terhadap ancaman karena kepekaan itulah yang memungkinkan kita bertahan hidup.

Tidak mengherankan jika perhatian manusia lebih mudah tertuju pada bahaya daripada pada kedamaian. Cerita tentang ancaman selalu terasa lebih memikat daripada cerita tentang ketenangan. Karena itulah budaya manusia dipenuhi kisah-kisah yang memiliki pola serupa: ada ancaman, ada perjuangan, lalu akhirnya ada kemenangan.

Pola yang sama ternyata juga sering muncul dalam kehidupan beragama. Ada roh jahat yang mengganggu, lalu kuasa Allah datang mengusirnya. Ada kegelapan, lalu terang mengalahkannya. Sekilas tidak ada yang salah dengan pola ini. Namun tanpa disadari, pusat perhatian kita sering kali tetap berada pada ancaman. Allah hadir sebagai Pribadi yang menyelesaikan masalah, bukan sebagai Pribadi yang dicari karena Dia sendiri.

Padahal, semakin seseorang bertumbuh dalam iman, semakin ia menyadari bahwa tujuan kehidupan rohani bukan sekadar terbebas dari ancaman. Tujuannya adalah mengenal dan mengasihi Allah. Perlindungan-Nya adalah anugerah, tetapi Allah sendiri adalah tujuan.

Mungkin di sinilah letak perbedaan antara iman yang masih bertumpu pada naluri bertahan hidup dan iman yang telah bertumbuh dalam kasih. Pada mulanya manusia datang kepada Allah karena takut. Namun perlahan-lahan ia belajar tinggal bersama Allah bukan lagi karena rasa takut, melainkan karena cinta.

Ketika itu terjadi, ancaman tidak lagi menjadi pusat kehidupan. Allah sendirilah yang menjadi pusatnya.

Soli Deo Gloria

RuangSunyi 68260709

Popular posts from this blog

Otak, Iman, dan Tubuh Kristus: Dari Memori Negatif Menuju Neuroplasticity Spiritual

Setengah Hari ke Kintamani: Pergi, Hadir, Pulang

Jogja yang Tak Pernah Sepenuhnya Direncanakan