Di Bawah Beringin Tua di TMP Margarana

Pagi ini, saat aku mengantar istri yang mengikuti upacara tabur bunga bersama kantornya, aku duduk didalam mobil, dibawah rindangnya sebuah beringin tua di Taman Makam Pahlawan Margarana. Batangnya begitu besar, akar-akarnya menjuntai dan sebagian telah menjadi penyangga yang kokoh bagi tubuhnya sendiri. Tajuknya menaungi siapa saja yang berada di bawahnya. Burung-burung datang dan pergi, sementara anjing-anjing milik warga berkeliaran dengan tenang di antara pepohonan. Kehidupan tetap berlangsung di tempat yang dipenuhi kenangan tentang mereka yang telah lebih dahulu menyelesaikan perjalanan hidupnya.

Ketika memandang beringin yang sepintas berkesan mistis itu, tanpa disadari muncul pula berbagai ingatan dan cerita yang pernah melekat sejak masa kecil. Tentang pohon besar yang dianggap angker, tentang penunggu, dan berbagai kisah yang hidup dalam budaya. Saat itulah timbul pertanyaan di dalam diri, mengapa kesan-kesan semacam itu begitu mudah muncul? Pertanyaan sederhana itu kemudian membawaku pada sebuah perenungan bahwa di dalam diri manusia ternyata bekerja begitu banyak dimensi sekaligus. Ada dimensi budaya yang sejak kecil membentuk cara memandang dunia. Ada memori yang menyimpan berbagai cerita dan pengalaman. Ada pula roso, rasa yang sering kali bereaksi lebih cepat daripada logika. Bersamaan dengan itu, ada kesadaran yang mencoba memahami semuanya, sementara dimensi spiritual mengajak hati untuk melihat lebih jauh, bukan berhenti pada ciptaan, melainkan mengarah kepada Sang Pencipta.

Sering kali dimensi-dimensi itu tidak berjalan seirama. Memori budaya dapat membangkitkan rasa takut, sementara logika mengetahui bahwa pohon hanyalah ciptaan Tuhan. Namun ternyata logika saja tidak cukup mengubah roso. Rasa tidak berubah hanya karena diberi penjelasan. Ia membutuhkan perjalanan yang lebih panjang.

Di situlah aku semakin memahami bahwa kehidupan rohani bukanlah usaha menghapus memori, budaya, ataupun rasa. Semua itu adalah bagian dari kemanusiaanku. Yang dibutuhkan bukan penghapusan, melainkan reorientasi. Ketika memandang beringin yang begitu agung, kekaguman tidak berhenti pada pohonnya, tetapi diarahkan kepada Dia yang menciptakannya. Ketika memori lama muncul, ia tidak perlu disangkal, melainkan dibawa pulang kepada Tuhan agar memperoleh makna yang baru.

Transformasi ternyata bukan sebuah peristiwa yang terjadi seketika. Transformasi adalah buah dari reorientasi yang dilakukan terus-menerus. Sedikit demi sedikit, bukan hanya logika yang berubah, tetapi juga roso. Apa yang dahulu memunculkan kecemasan, perlahan berubah menjadi kekaguman kepada Sang Pencipta. Apa yang dahulu mengikat hati kepada cerita-cerita lama, perlahan mengarahkan hati kepada Allah.

Perenungan itu kemudian membawaku pada pertanyaan lain tentang perjalanan hidupku sendiri. Di usia enam puluh tahun, mengapa aku masih merasa sedang bertumbuh? Bukankah seharusnya pada usia seperti ini semuanya sudah matang?

Namun beringin tua itu seolah memberikan jawabannya sendiri. Ia telah berdiri puluhan, bahkan mungkin ratusan tahun. Ia tampak kokoh, tetapi sesungguhnya ia masih bertumbuh. Pertumbuhannya tidak selalu terlihat ke atas; justru akar-akarnya semakin dalam menopang seluruh kehidupannya. Mungkin demikian pula pertumbuhan rohani manusia. Kedewasaan bukan berarti perjalanan telah selesai, melainkan kesediaan untuk terus bertumbuh selama hayat masih dikandung badan.

Perenungan itu akhirnya menyentuh pertanyaan tentang masa pelayananku. Apakah nanti aku akan melanjutkan pelayanan sebagai penatua atau berhenti setelah masa bakti berakhir? Hari ini aku belum membutuhkan jawabannya. Yang lebih penting adalah belajar tetap peka mendengar kehendak Tuhan. Sebab yang terutama bukanlah mempertahankan sebuah jabatan, melainkan tetap hidup di dalam panggilan-Nya, apa pun bentuknya.

Di bawah beringin tua pagi ini, aku belajar bahwa seluruh dimensi kehidupan—budaya, memori, logika, roso, dan pengalaman—tidak perlu saling dipertentangkan. Semuanya dapat berjalan bersama ketika memiliki satu pusat orientasi yang sama. Bukan lagi berpusat pada diri sendiri, bukan pula pada ciptaan, melainkan kepada Allah.

Dan barangkali, itulah makna pertumbuhan yang sesungguhnya: bukan menjadi manusia yang selesai, melainkan menjadi manusia yang semakin mudah mengarahkan seluruh dirinya kembali kepada Tuhan.

Popular posts from this blog

Otak, Iman, dan Tubuh Kristus: Dari Memori Negatif Menuju Neuroplasticity Spiritual

Setengah Hari ke Kintamani: Pergi, Hadir, Pulang

Jogja yang Tak Pernah Sepenuhnya Direncanakan