SANTAI DULU, KAWAN...
Pagi ini, tidak seperti beberapa hari belakangan yang mendung atau sedikit hujan saat subuh, udara terasa lebih pengap dengan suhu sedikit naik dibanding hari sebelumnya. Bangun pagi kali ini, kepala sedikit terasa berat. Badan sebenarnya masih merajuk untuk tetap rebahan di kasur. Tetapi alarm tubuh yang sudah terbiasa bangun lebih awal mulai dipenuhi oleh rencana hari ini, sementara residu hiruk pikuk pikiran yang didominasi oleh isu-isu sosial politik, terutama perihal demo, karhutla, dan soal sadap-menyadap, masih terasa.
Barangkali memang hiruk pikuk isu sosial politik di negeri ini sempat menyita perhatian dan pikiranku. Dan residunya pagi ini masih tertinggal.
Bangun pagi kali ini tidak langsung kuteruskan dengan mandi. Aku mencoba mengambil saat teduh sebentar di sofa ruang tamu sambil menyeruput kopi Arabica Gayo yang dibeli istri dari Hayati Roastery kala di Jogja bulan lalu.
Di saat teduh ini, sambil menyeruput kopi, aku mencoba relaksasi sebentar. Menyortir dan mengesampingkan sejenak pikiran-pikiran yang tidak perlu.
Sambil menunggu seduhan kopi berkurang panasnya, bersyukur kepada Tuhan atas segala yang boleh dirasakan dan dinikmati pagi ini tentu menjadi awal dari saat teduh. Setelah itu, kubiarkan pikiran melayang santai dan membayangkan kefanaan dunia serta perjalanannya.
Sebuah perjalanan yang panjang, sepanjang usia semesta ini, di mana keberadaan kita tak lebih dari sepersekian kecil ukuran debu kosmik. Sementara semesta masih akan terus berjalan melampaui masa keberadaan kita. Sebuah masa yang masih sulit dibayangkan akan seperti apa, bergerak ke mana, dan akan ada peristiwa besar apa saja.
Membiarkan pikiran melayang menjangkau lintas waktu yang seolah tak terbatas itu membangkitkan kesadaran bahwa apa pun yang kita hadapi, alami, dan pikirkan saat ini, termasuk semua hiruk pikuk isu sosial politik, akan lewat begitu saja. Tergilas oleh waktu yang melaju cepat.
Seperti membayangkan saat berdiri di peron stasiun kereta Whoosh dan menyaksikan laju cepat Whoosh di depan mata. Kereta melesat, melintas, lalu menghilang dari pandangan. Demikian pula waktu. Ia terus bergerak, membawa serta segala peristiwa, perdebatan, kegaduhan, dan persoalan yang hari ini mungkin terasa begitu besar dalam kehidupan kita.
Adapun isi pikiran dan bahkan perasaan yang sering kali terseret saat menyaksikan situasi dan kondisi carut-marut isu sosial dan politik, benar-benar dapat dihayati melalui teori relativitas Einstein. Lambat atau cepat, bergantung dari kita saja yang merasakannya.
Mungkin karena itu, sesekali kita perlu mengambil jarak. Bukan untuk menjadi tidak peduli, apalagi mengabaikan persoalan yang sedang terjadi di sekitar kita. Kita tetap perlu menghayati, memahami, bahkan mengambil bagian dalam persoalan-persoalan kekinian. Namun, kita juga perlu menjaga agar pikiran dan perasaan tidak terus-menerus terseret dan kelelahan oleh kegaduhan yang ada.
Kita perlu memberi ruang bagi diri sendiri untuk beristirahat sejenak. Menenangkan dan menyegarkan akal pikiran serta perasaan. Supaya kita tidak kehilangan kejernihan dalam melihat persoalan dan tetap memiliki energi untuk berpartisipasi di dalamnya.
Sebab, jangan sampai kesibukan menghayati dunia membuat kita kehilangan kemampuan menikmati kehidupan.
Jadi, sruput saja kopinya. Perkara dunia di sekitarmu ribut, berisik, biarkanlah sejenak. Karena waktu ini mengalir cepat. Segala yang diperdebatkan dan diributkan manusia akan berlalu begitu saja dalam linimasa yang panjang.
Santai dulu, Kawan....
Sruput lagi...